Fasilitasi kelompok besar

05 November 2013 - Posted by admin

Fasilitasi kelompok besar

Apakah mungkin memfasilitasi 250 orang dengan penuh konsentrasi dan menyenangkan? Bagi teman-teman fasilitator Lapangan Kecil yang berkolaborasi dengan teman-teman konsultan EHRA/ ISSDP, jawabannya adalah mesti dicoba.

 

Jumlah partisipan memang tidak boleh menjadi persoalan. Yang penting adalah penerapan senu fasilitasi dan teknik yang tepat. Tanpa keduanya, fasilitasi hanya 10 orang mungkin saja berlangsung garing, tanpa konsentrasi dan membosankan.

 

Bersama 208 kader dari seluruh kelurahan di Kota Padang dan rekan-rekan Puskesmas, fasilitator Lapangan Kecil bersama-sama teman-teman konsultan EHRA/ ISSDP memfasilitasi belajar bersama EHRA (Environmental Health Risk Assessment). Sessi berlangsung 2 hari (18 – 19 April 2009) di Stikes Kota Padang.

 

Pembelajaran kami untuk memfasilitasi khalayak yang besar adalah


  1. Sedikit bicara. Sebisa mungkin terapkan aturan penting fasilitatasi bahwa fasilitator mesti bicara singkat saja. 1,5 menit saja sudah terlalu lama. Selama sessi dua hari kami berusaha memberi penjelasan pendek yang segera diikuti dengan praktik bagi partisipan dan demikian seterusnya untuk setiap materi. Semisal, ketika membahas tentan informed consent, fasilitator menjelaskan secara singkat dan cepat, lalu semua partisipan diminta untuk mempraktikkannya. Demikian pula diterapkan untuk materi tentang wawancara, pengamatan dll.
     
  2. Gunakan teknik-teknik dasar seni fasilitasi seperti encouraging, making space, paraphrasing, atau mirroring. Upayakan, dalam waktu yang dibolehkan, sebanyak mungkin partisipan mengeluarkan suaranya. Fasilitator aktif menyebarkan kesempatan ke kiri-kanan-depan-belakang-tengah dll. Sewaktu partisipan berbicara, paraphrasing atau mirroring banyak membantu khalayak menangkap inti yang sama.Lebih lanjut, mirroring membantu membangun kecepatan pembicaraan partissipan. Teknik balancing, mencari sisi lain, hanya dipergunakan saat pendapat ekstrim muncul.
     
  3. Redirecting. Minta forum memberi sumbangan pemikiran ketika ada seorang partisipan bertanya. Dalam diskusi, ada yang bertanya, “Bagaimana cara kita menghadapi narasumber warga yang pelit bicara?” Alih-alih menjawab, redirect, “Apakah ada ibu-ibu yang punya pengalaman?” Dalam sessi dua hari itu, biasanya ibu-ibu kader dengan sgap menjadi narasumber. Perlakuan seperti itu membuat peserta merasa lebih dihargai.
     
  4. Sessi energizer yang teratur. Sessi energizing yang diaplikasikan mesti bisa diprediksikan oleh partisipan sehingga tidak memecah konsentrasi. Energizing yang diterapkan pun tidak banyak mengubah posisi duduk partisipan sehingga tidak membuang banyak waktu
     
  5. Kerja kelompok dirancang secara hati-hati. Pertama, penugasan disampaikan secara jelas dan rinci sebelum kelompok terbagi. Kedua, pembagian kelompok dirancang agar khalayak bisa membagi diri secara mudah. Dalam kasus kami, kelompok dibagi atas wilayah kerja (kecamatan). Ketiga, leadership dalam diskusi per kelompok disiapkan dan dikenalkan terlebih dahulu. Di sini, yang menjadi leader/ fasilitator diskusi/ kerja kelompok kawan-kawan puskesmas.
     
  6. Disiplin waktu. Beruntunglah kami, BAPEKO Kota Padang memiliki staf yang biasa menjadi MC yang handal dan tegas. Kedisiplinan semacam ini membuat partisipan dapat memprediksikan waktu-waktu rehat dan pembabakan acara.
     
  7. Humor, khususnya humor positif yang asosiatif. Positif itu mentertawakan tanpa menghina, menyinggung perasaan ataupun mebuat buruk wajah seseorang atau sejumlah orang. Asosiatif maksudnya humor itu dimunculkan cepat, mengolah dari percakapn yang dijumpai dalam proses fasilitasi.

 


Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 182 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile