Social Loafing & Proses Fasilitasi

02 Juni 2012 - Posted by admin

Social Loafing & Proses Fasilitasi

Lapangan Kecil pernah ditanya seorang kawan ahli pembangunan air dan sanitasi dari Australia, “Kenapa sih di sini semuanya mesti dalam bentuk kelompok?” Isu yang dirujuknya adalah sistem penangkapan air hujan per kelompok rumah tngga. Dia merasa model seperti itu mestinya diadopsi per rumah tangga saja. “[Kalau berkelompok] nantinya pasti terlantar karena tidak ada yang memelihara, karena akan saling lempar tanggung jawab,” ujarnya.

 

Awalnya, kami menjawab secara bercanda bahwa itu mungkin ditetapkan di ToR atau anggaran menuntut seperti itu. Tentu, jawaban semacam ini tidak memuaskannya.

 

Akhirnya, terpikir juga, jangan-jangan sekarang muncul fundamentalis kelompok, di mana segala isu dipercaya bisa dipecahkan dalam konteks berkelompok. Dana bergulir dengan tekanan berkelompok, bisnis kecil model berkelompok, pemberian ASI (Air Susu Ibu) dengan norma kelompok dan lain-lain. Seolah-olah semuanya tidak bisa dijalankan per individu atau rumah tangga.

 

Dalam banyak kasus, upaya kelompok memang rentan menghasilkan social loafing atau perilaku warga atau anggota kelompok yang mengurangi upayanya/ kontribusinya ketika kerja berkelompok. Di sini, upaya yang diberikan anggota dalam kelompok bertolak belakang dengan ketika dia mengerjakannya sendiri. Contoh studi yang kerap dijadikan ilustrasi adalah permainan tarik-tambang di mana dalam satu kelompok ternyata tidak semua penarik memberikan 100% kemampuannya.

 

Dalam praktik pembangunan sosial di skala mikro seperti tingkat desa, kita sering melihat gejala social loafing ini, semisal, ketika satu atau dua orang yang “ketempuhan” memelihara sumber dan pipa air, sementara warga lain hanya melihat atau mengomel ketika muncul masalah; atau kondisi WC atau MCK yang tidak terurus, kecuali satu atau dua warga mengambil inisiatif; atau fakta di mana sebagian kecil kader Posyandu bekerja intensif, sementara kader-kader lebih mirip penggembira.

 

Proses fasilitasi yang efektif sebetulnya bisa mengurangi potensi social loafing. Bila dikaitkan dengan sebab-sebab (versi sejumlah studi) berikut antisipasi yang bisa dilakukan selama proses fasilitasi.

 

Sebab-sebab social loafing Antisipasi dalam proses fasilitasi
Anggota merasa bukan tanggung jawabnya
  • Uji komitmen bersama
  • Fasilitasi pengembangan norma berkelompok
  • Fasilitasi pembagian kerja yang jelas
  • Uji dan konfirmasi komitmen individual
Merasa kontribusinya tidak akan terlihat dan hanya akan mengangkat nama pemimpin kelompok atau sebagian anggota
  • Fasilitasi pengembangan norma berkelompok
  • Selebrasi bersama dengan merekognisi kontribusi individual dan kelompok
  • Pemantauan kemajuan secara partisipastif
Merasa kontribusinya tidak akan berarti
  • Diskusi peran masing-masing individu/ kelompok kerja untuk saling memahami kontribusi dan keterkaitan dalam pencapaian kelompok
Merasa bahwa pekerjaan kelompok terlalu mudah dan bisa dikerjakan oleh segelintir anggota
  • Fasilitasi visi atau tujuan jangka panjang kelompok
  • Fasilitasi pengembangan norma berkelompok

 

Kembali ke pertanyaam kawan dari Australia di awal tulisan ini, apakah semuanya perlu dilakukan secara berkelompok? Dalam kerangka berpikir kami, sebetulnya tidak semua perlu dikerjakan bersama-sama, khususnya jika sebuah pekerjaan bisa dibereskan secara individual.

 

Rasanya, bila dimungkinkan, lebih baik usaha mikro dieksekusi secara individual ketimbang memaksakan diri secara berkelompok dan kemudian memunculkan kekacauan dalam pengelolaan bisnis. Atau, bila anggaran memungkinkan, mungkin sistem penangkapan air hujan lebih baik dibuat per rumah tangga sehingga tanggung jawab pemeliharan berada dipundak per rumah tangga dan tidak terjadi saling lempar tanggung jawab.

 

Namun, yang sebaiknya tidak dihilangkan adalah peran kelompok. Kalau pun bisnis di lakukan per individu/ rumah tangga, kelompok bisa berperan dalam upaya mencari solusi bagi individu kepentok masalah atau kelompok pun bisa dijadikan tempat belajar dan berbagi ilmu. Dengan demikian, tidak adalah salahnya untuk selalu berkelompok. Dalam hemat kami, yang penting adalah peran kelompok mestilah disesuaikan dengan kebutuhan anggota. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 190 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile