Ujian untuk Konsensus

05 November 2013 - Posted by admin

Ujian untuk Konsensus

Kadang kala meraih konsensus sulitnya bukan main. Ya, karena konsensus bukan sekedar kata setuju di bibir anggota organisasi. Konsensus juga berarti komitmen dan mesti ditemukan secara bersama (process of participative discovery).

 

Lebih lanjut, Larry Dressler dalam Consensus through Conversation (2006) juga menyarankan sejumlah ujian untuk konsensus (test for consensus) sebagai salah satu langkah dari lima langkah yang dipercaya dapat menemukan konsensus kelompok/ organisasi yang solid dan efektif.

 

Bertanya pada kelompok adalah salah satu cara menguji apakah telah muncul konsensus di kelompok. Menariknya, Dressler menekankan bahwa kita mesti bertanya dalam konteks kelompok. Jadi, jangan bertanya:

  • Apakah ini pilihan utama Anda?
  • Apakah ini sesuai dengan tujuan dan kepentingan Anda?
     

 

Tapi, bertanyalah:

  • Apakah usulan (kesepakatan/ rencana dll) ini bisa Anda terima dan dukung?
  • Apakah usulan ini sesuai dengan kriteria yang sudah dibahas bersama?
  • Apakah usulan ini merupakan hasil kerja terbaik organisasi saat ini?
  • Apakah usulan ini akan merupakan keputusan terbaik bagi organisasi kita?
     

Hasilnya, kemungkinan ada 4 skenario. Pertama, semuanya merasa nyaman dan mendukung. Kedua, sebagian merasa nyaman dan mendukung, sebagian lain memiliki pertanyaan untuk klarifikasi.

 

Ketiga adalah ketika ada sebagian yang menentangnya. Nah, untuk ini perlu diuji, apakah penentangannya legitimate atau tidak. Hanya yang legitimate saja yang perlu ditindaklanjuti. Yang legitimate misalnya adalah di mana rancangan keputusan bukan merupakan yang terbaik dari kriteria yang dibuat bersama atau ternyata melanggar kebijakan organisasi yang lebih tinggi dll.

 

Sementara, skenario ke empat adalah ketika anggota kelompok/ organisasi menemui jalan buntu mencari jalan keluar pada keberatan-keberatan yang disampaikan. Dalam pandangan Dressler, yang lebih memilih dialog dari pada voting (yang biasanya tidak menghasilkan komitmen), proses dialog dan pencarian informasi lebih lanjut dibutuhkan.

 

Risang Rimbatmaja    

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 185 + 5 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile