Mencegah Group Think

05 November 2013 - Posted by admin

Mencegah Group Think

Berkelompok tidak otomatis menghasilkan sesuatu yang positif. Khususnya bila kelompok itu terlampau kohesif, sementara pemimpinnya direktif, sehingga apa yang dikatakan selalu di-iya-kan oleh anggotanya dan mereka merasa yang terhebat sampai lupa diri akan masukan dari lingkungannya.

 

Dalam situasi group think, potensi kelompok untuk menyediakan beragam ide hilang karena anggota-anggota terlalu konformis terhadap ide ketua atau elit lain dalam kelompok. Sebagain manut karena sangat percaya tanpa berpikir kritis. Sebagian lain tidak berani mengemukakan pendapatnya.

 

Ketika direksi ketua atau elit tidak sesuai dengan norma sosial yang lebih luas, maka group think dapat mendatangkan risiko. Perilaku brutal sejumlah geng motor, geng pelajar yang menyerbu sekolah lain, geng pelajar yang mem-bully pelajar lain, ormas yang anggotanya berani mati, atau pada tingkatan yang berbeda, bisa juga berupa departemen sebuah organisasi yang kompak dengan sombong memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan masukan departemen lain.

 

Seorang fasilitator dapat berperan dalam mencegah group think. Berikut adalah 4 cara yang relevan bagi fasilitator, dari 10 cara yang dikemukakan Irving L Janis (1982), ahli yang pertama kali memperkenalkan konsep group think.

1.     Mendorong ketua atau elit kelompok agar netral dan tidak mendorong satu posisi

2.     Menempatkan satu atau beberapa orang menjadi devil’s advocate atau orang yang bersikap besebrangan, mengajak anggota memikirkan semua kemungkinan yang ada dan menantang kesepakatan-kesepakatan kelompok

3.     Menyelenggarakan second chance meeting setelah satu kesepakatan dibuat

4.     Sering-sering membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan menyuarakan perbedaan-perbedaa

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 190 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile