Jebakan Force Field Analysis (FA)

03 Juni 2012 - Posted by admin

Jebakan Force Field Analysis (FA)

Secara umum FA (Force Field Analysis) dikenal sebagai metode untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang saling bertolak belakang, yakni yang merintangi dan yang membantu pencapaian/ penyelesaian suatu isu. Semisal, diskusi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penjualan, kemudian ditemukan faktor yang merintangi adalah distribusi lamban, produk yang ketinggalan jaman dll. Sementara, yang mendorong tingkat penjualan adalah tenaga pemasaran yang handal, budjet pemasaran yang memadai, dan lain-lain.

 

FA sebetulnya merupakan metode yang dapat mengumpulkan informasi yang kaya dan berimbang, tapi kadangkala dia juga bisa menjadi metode yang membosankan dan mandul. Dari pengalaman Lapangan Kecil, berikut adalah hal-hal kontraproduktif yang kerap muncul.

 

Yang negatif adalah negasi dari yang positif. Terkadang partisipan hanya membalikkan/ menegasikan salah satu faktor yang diidentifikasi sebelumnya. Semisal, faktor yang mendorong adalah tingginya kemampuan tenaga pemasaran, sementara, dengan mudah diidentifikasi bahwa yang menghambat adalah rendahnya kemampuan tenaga pemasaran. Hasil fasilitasi semacam ini disebabkan karena fasilitator lupa meminta partisipan untuk berfokus pada faktor positif dan negatif yang signifikan secara independen (bukan menegasikan).Selain itu, dia juga mungkin lupa menekankan bahwa yanag dicari adalah hal-hal yang aktual. Bila lupa, faktor yang bukan aktual alias prediksi ke depan (yang bisa/ akan terjadi) bisa luput.

 

FA sebagai proses konvergensi (Mengerucutkan). Bila diletakkan pada proses konvergensi, FA menjadi melelahkan dan orang tidak bisa mengeluarkan hasil pengamatan atau analisisnya secara bebas (karena pasti akan dikomentari atau dinilai oleh orang lain). Sebaiknya, FA diletakkan dalam proses divergensi sehingga orang bisa lebih leluasa mengutarakan hasil pengamatan atau analisisnya.

 

FA sebagai proses kelompok. Dalam pengalaman Lapangan Kecil, bila FA dilakukan dalam kerja kelompok saja maka yang terjadi kadang diskusi yang bertele-tele di dalam kelompok dan kebebasan individu terbatasi.

 

Setelah FA, selesai sudah. Bila FA diletakkan dalam proses divergensi, maka hasilnya tentu menggantung. Sebaiknya ada tahapan selanjutnya, yakni membangun mutual understanding dan kemudian konvergensi. Di sini, metode-metode lain bisa ikut diterapkan untuk membantu proses.

 

Membatasi FA hanya dalam kutub faktor yang membantu versus faktor yang menghalangi. Seperti yang diuangkap Ingrid Bens (2008), sebetulnya polarisasi dalam FA bisa divariasikan, semisal pros vs cons, hal yang telah dikerjakan secara baik vs hal yang sebetulnya bisa dikerjakan lebih baik, dan lain-lain. Lapangan Kecil bahkan melihat FA bisa diterapkan dengan menggunakan teknik-teknik AI (Appreciative Inquiry), khususnya untuk identifikasi faktor yang positif. (Risang Rimbatmaja)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 162 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile