Mengingat Percakapan

30 Juni 2012 - Posted by admin

Mengingat Percakapan

Pada suatu waktu ada kawan yang sedang belajar menjadi fasilitator mengeluh, “Saya tidak bisa mengingat percakapan yang saya fasilitasi. Apalagi kalau partisipannya bercerita panjang lebar. Semuanya seperti arus informasi yang melimpah ruah dan saya tidak bisa menampung, apalagi mencernanya,” ungkapnya.

 

Mendengar itu, saya yang sama-sama sedang belajar teringat teknik pencatatan model anthroplog dan beberapa teknik mendengar aktif. Mungkin ini bisa membantu.

Agak berbeda dengan fasilitator, anthropolog biasanya sama sekali tidak mencatat ketika dia menyimak pembicaraan. Mencatat bisa menarik perhatian subjek dan itu bisa menganggu percakapan. Tapi, anthropolog juga dituntut menghasilkan catatan atau deskripsi tebal (thick description) untuk laporan (fasilitator bisa juga diminta laporan semacam itu). Untuk itu, anthropolog biasanya mengembangkan catatan lapangan (field notes) dengan empat tahap, yakni 1) mental notes, 2) cryptic jottings, 3) detailed description, 4) analytical notes, dan 5) subjective reflections (Goodwall, 2000).

Mental notes atau catatan mental adalah catatan di pikiran kita. Pengalaman saya, kalau kita mendengar secara aktif maka poin-poin utama bisa dengan mudah kita ingat. Bukan hanya itu, tapi poin-poin yang diingat pun merupakan poin-poin yang disepakati dengan lawan bicara. Teknik mendengar aktif yang bisa dipakai di sini adalah menandai dan mengungkap kembali hal-hal yang umum (generalization), yang belum terungkap (deletion), sisi lain (distortion) dan yang berkontradiksi (contradiction). Jadi, ketika lawan bicara bercerita:

“Kita memerlukan mesin yang mantap untuk menurunkan beban sebanyak 3 ton per detik..”

Fasilitator mungkin segera bertanya pendek (sehingga tidak menganggu arus kata-kata), “Mesin yang mantap, seperti…?”

Atau di saat lain, fasilitator bisa juga menerapkan teknik mirroring. “Kita memerlukan mesin yang tahan air untuk menurunkan beban sebanyak 3 ton per detik..” Fasilitator bisa menyambut: “..3 ton per detik.”

Selain mirroring dengan dalam kata-kata, bisa juga melakukan mirroring perasaan. Selami, rasakan emosi lawan bicara. Kalau marah, rasakan marahnya (tapi tidak ikut marah). Kalau sedih, rasakan kesedihannya (tapi, tidak ikut sedih juga). Percakapan, ide, kejadian yang ditandai dengan emosi tertentu bisa membuat daya ingat kita.

Bisa juga ditambahkan dengan sesekali usaha “pemotretan” dan “pengambilan film”. Yang dimaksud pemotretan di sini adalah snap shot gerak gerik, wajah, mimik lawan bicara, dan hal-hal unik lainnya. Sementara, pengambilan film sifatnya prosesual, kejadian per kejadian.

Menurut saya, kawan yang tidak bisa mengingat secara cepat disebabkan karena dia tidak terlibat dalam percakapan alias hanya mendengar pasif ketika para partisipan berdiskusi. Mungkin dia tidak bengong tapi dia hanya mengikuti arus

Setelah membentuk mental notes, seorang anthropolog akan membuat cryptic jottings. Istilah keren, tapi maksudnya hanya catatan sangat mini, bahkan satu dua kata per ide pun sudah sangat memadai. Beberapa anthropolog malah membuat sketsa atau gambar atau simbol-simbol tertentu.Ada pula yang menbuat mindmapCryptic jottings dibuat di lapangan (di sela-sela sessi fasilitasi) dan disarankan tidak membuat catatan detail karena membuat kita lupa akan hubungan antar-ide, konteks di mana ide itu muncul atau gambaran besarnya.

Setelah keluar lapangan (setelah sessi selesai), barulah dibuat detailed descriptions. Di sini semakin detail semakin bagus.

Dalam catatan lapangan bisa pula ditambahkan analytical notes atau catatan analisis. Isinya adalah analisis hubungan antar-ide atau penjelasan kenapa ide itu muncul dll. Yang penting di sini adalah pilih tipe huruf atau warna atau letak yang berbeda dari detailed descriptions.

Yang terakhir adalah subjective reflections. Isinya adalah catatan-catatan yang sifatnya emosi pribadi. Kalau Anda merasa di suatu titik Anda kelelahan, bosan luar biasa, tulis saja. Tentu, dengan huruf, warna atau posisi yang berbeda.

Silahkan dicoba, semoga proses ini bisa membantu Anda menghasilkan laporan fasilitasi yang berkualitas.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 195 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile