Mengelola Prasangka

30 Juni 2012 - Posted by admin

Mengelola Prasangka

 

Konon prasangka adalah salah penyebab utama konflik antarkelompok,
pertengkaran antaraindividu atau perpecahan rumah tangga. Prasangka mengatur
bagaimana kita berperilaku. Kalau kita berprasangka seseorang itu akan
mencuri dompet kita, maka entah itu benar atau tidak, kita akan cenderung
lebih berupaya melindungi dompet kita. Kalau kita berprasangka seseorang
akan menyakiti diri kita, maka kita akan cenderung bersikap defensif atau
mungkin lebih agresif terhadap orang itu. Bahkan, ada orang yang memilih
menghindari dari pada berkomunikasi dengan orang yang disangka akan
menyakiti dirinya.

Konon pula prasangka merupakan hal manusiawi dan karenanya tidak
terhindarkan pada diri manusia. Dalam dunia akedemik, padanannya prasangka
mungkin hipotesis atau dugaan sementara.

Orang-orang yang belajar filsafat tahu betul bahwa salah satu kemampuan
terbesar manusia adalah kemampuan menunda (untuk tidak bereaksi langsung
atas respon, layaknya binatang), atau dengan kata lain, kemampuannya
berhipotesis.

Konon juga fasilitator merupakan orang yang terlatih yang dapat mengelola
prasangka. Membuatnya menjadi lebih produktif, ketimbang sumber konflik atau
kesengsaraan batin. Lebih lanjut, sebetulnya salah satu tugas pokok
fasilitator adalah memproses belajar anggota kelompok agar mampu mengelola
prasangka (karena prasangka tidak bisa dihilangkan).

Roger Schwarz (2002) meletakkan kemampuan mengelola prasangka sebagai ground
rule one bagi fasilitator, yakni test assumption and interferences. Intinya
adalah kita perlu menanyakan apakah makna yang ada pada kita tentang
perilaku seseorang sama dengan makna yang dimiliki oleh orang berperilaku
itu. Bahasa yang digunakan agak mirip seperti saat kita melakukan
paraphrasing, contohnya "Saya lihat Ibu/ Bapak sering keluar masuk ruangan,
apakah boleh saya berpikir bahwa Ibu/ Bapak sedang kurang enak badan?"

Pengungkapannya tentu saja tidak dalam bentuk tuduhan atau pertanyaan
leading seperti "Ibu/ Bapak kurang enak badan, ya?", tapi lebih menekankan
fakta atau kemampuan deskriptif kita sambil menekankan bahwa itu adalah
hasil penglihatan, pengamatan atau pikiran kita.

Bagi saya pribadi, mengelola prasangka mesti dimulai sebelum kita melakukan
intervensi/ pengujian apapun, alias mulai dalam tahap penerimaan. Bila
prasangka sudah menyentuh relung emosi kita, maka prasangka kembali menjadi
hal kontraproduktif dalam mengelola interaksi.

Pertama, agar prasangka tidak masuk ke dalam relung emosi, kita perlu
menyadari bahwa itu adalah prasangka, dalam pengertian bahwa itu adalah
dugaan sementara atau hipotesis. Cukup menyadari bahwa yang kita pikirkan
adalah sebuah prasangka atau dugaan saja biasanya membantu kita tidak
terbawa emosi. Contohnya, saat kita melihat orang membuang muka ketika kita
melihatnya, maka ketimbang langsung menjadi sewot atau merasa bahwa orang
itu membenci kita, lebih baik kita sadar bahwa kita tengah membangun dugaan,
yang kita sadari penuh kebenarannya belum dibuktikan. Melakukan self-brain
storming dengan cepat mencakup sisi pros-cons juga membantu. Atau, bisa juga
membangun prasangka positif saja, seperti yang diajarkan agama. Kalaupun
sulit, yang penting, kita menyadari bahwa saat itu kita hanya membuat
dugaan. Jangan sampai masuk ke relung emosi.

Kedua, kita perlu melihat perilaku yang mengundang prasangka itu secara
deskriptif, tidak judgmental. Di sini kita perlu menghindari bahasa
judgmental atau evaluatif dan mulai membangun bahasa yang deskriptif. Ketika
ada seorang partisipan workshop melihat-lihat jam sambil berkata,
"Membosankan ini pemateri, ayo sudahi saja", kita baiknya menghindari
berpikir bahwa orang itu kurang ajar. Atau berprasangka bahwa dia ingin
memprovokasi orang-orang agar menunutut pulang lebih cepat. atau pematerinya
membosankan. Namun, lebih baik kita meletakkannya dalam pikiran verbal yang
deskriptif, tanpa bumbu bahasa judgmental, seperti kurang ajar, memprovokasi
dll. Lebih baik kita isi kepala kita dengan fakta deskriptif semisal,
partisipan yang duduk di pojok sana melihat jam tangan dan kemudian dia
mengatakan bla...bla...bla... dengan nada yang pelan.

Menghindari istilah-istilah judgemental atau evaluatif biasa membantu kita
membuat prasangka menjadi sekedar dugaan dan tidak menyetir perilaku dan
sikap kita.

Jadi, bahasakan saja seperti gambaran apa adanya. Terkadang, menuliskannya
di secarik kertas juga membantu. Setelah itu perlu dibekukan atau dibungkus.
Kalau kita perlu menunggu sebelum dapat membuktikannya, usahakan untuk
melupakan saja.

Ketiga, baru kita lakukan uji asumsi kita. Schwarz cenderung
straightforward. Untuk contoh kasus sebelumnya, intervensinya bisa dengan
mengatakan, "Saya tadi dengar Ibu/ Bapak mengatakan bahwa pematerinya
membosankan, maka sudahi saja. Apakah betul kalau saya menarik kesimpulan
bahwa Bapak sudah kelelahan?"

Hmm, rasanya tidak selalu pengujian prasangka itu melulu dengan cara yang
straight forward seperti itu. Mungkin bisa juga dengan cara tidak langsung.
Apapun caranya, bagi fasilitator dan kelompok yang ditemaninya, yang penting
prasangka itu terkelola dan tidak menjadi hambatan dalam berkomunikasi atau
bekerjasama. Hidup tanpa prasangka jelas sulit. Tapi jangan sampai prasangka
menyulitkan hidup.

Risang Rimbatmaja/ Lapangan Kecil

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 127 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile