Keluar dari Percakapan Penuh Tekanan

18 Juni 2012 - Posted by admin

Keluar dari Percakapan Penuh Tekanan

Fasilitator biasanya menghadapi tantangan-tantangan yang tidak dia antisipasi sebelumnya. Contohnya, seperti yang diceritakan seorang partisipan workshop Lapangan Kecil, “Fasilitator kami pernah ditolak kantor kecamatan, lalu dia pulang dengan tangan hampa. Katanya, ibu di kantor itu bilang: apa yang kami bisa lakukan di sini? Kamu ini kan tidak punya pengalaman. Kerja di tempat lain saja sana….”

 

Dalam fasilitasi percakapan, sebetulnya selama ada percakapan, maka di situ ada peluang. Kemarahan, teriakan, kalimat pedas, kritikan, hinaan, dll adalah peluang. Yang justru harus ditakuti adalah orang yang diam saja.

 

Kenapa mesti ada percakapan? Karena, bagi konstruktivis, selama ada percakapan, maka di situ ada media dan enerji untuk berinteraksi. Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip konstruktivis, seperti resiprokal, maka perubahan dimungkinkan.

 

Untuk itu, fasilitator mesti bisa menguraikan percakapan. Memisahkan unsur penilaian dan deskripsi dan mencoba mencari peluang dibalik kata-kata, misalnya mencari kekuatan dibalik kekurangan.

 

Dialog-dialog berikut (sebagian pengalaman lapangan) memberi contoh.

 

Contoh 1

    Petani: Panen di sini selalu gagal, mas. Tidak pernah menghasilkan keuntungan bagi kami. Hanya cukup untuk makan kami saja!

    Fasilitator dengan pertanyaan pengecualian: Apakah selalu begitu? Tidak pernahkah sekalipun selama Bapak-Bapak bertani panennya menghasilkan keuntungan?

    Petani: Ya, pernah sih. Beberapa tahun lalu.

    Fasilitator: Coba, bapak ceritakan, kok waktu itu panen bisa menguntungkan? Kapan itu? Kok bisa?

    Percakapan selanjutnya fokus di kisah positif

 

 Contoh 2

    LMK: Fasilitator, Kamu itu OMDO! TIDAK ADA AKSIII!!!

    Fasilitator: Bapak-Bapak, iya saya juga khawatir …hmm. ..supaya saya tidak OMDO dan ada aksi, coba utarakan pendapat, apa yang bisa kita lakukan bersama-sama? Ayo pak, apa kegiatan yang mesti kita lakukan segera…?

    Percakapan selanjutnya berfokus pada aksi

 

Contoh 3

    Staf kecamatan: Kamu tahu apa sih???!! Kami ga butuh fasilitator…!

    Fasilitator: Ibu, kalau boleh tahu, pengetahuan apa yang saya perlu  kuasai untuk membantu warga di sini? Boleh Ibu beri masukan ke saya?

    Percakapan selanjutnya diarahkan untuk kebutuhan warga

 

Semoga bermanfaat.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 106 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile