Feeling Literate/ Melek perasaan

18 Juni 2012 - Posted by admin

Feeling Literate/ Melek perasaan

Feeling literate atau melek perasaan mungkin bukan suatu hal yang dianggap serius. Untuk apa melek perasaan? Bukankah kita sudah tahu apa yang kita rasakan?

 

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Banyak orang lebih suka menekan atau menolaknya dengan berbagai alasan, misalnya, tidak sanggup merasakannya atau sebaliknya, merasa itu terlalu remeh. Dick (1987) dalam buku Hogan berjudul Facilitating Empowerment (2000) justru berpendapat lain. Menurutnya mampu mengidentifikasi perasaan akan lebih berguna dan Hogan mengaitkannya dengan kuasa dari diri kita. Dengan memiliki kemampuan mengidentifikasi perasaan, kita bisa lebih mampu untuk mengontrol diri dan kemudian berkomunikasi lebih efektif. Ini seperti kata-kata Muhammad Ali yang dikutip Hogan: The more fearful, the more nervous an athlete is the better he performs.

 

Mampu mengidentifikasi perasaan berbeda dengan terbawa perasaan. Kemampuan mengindetifikasi terkait dengan seberapa jauh kita bisa menamai/ memberi simbol pada perasaan kita itu. Sedih? Kelam? Menyayat hati? Perih? Senang? Gembira?

 

Karena mengidentifikasi perlu istilah, maka kemampuan ini terkait dengan vocabulary yang kita miliki dan pahami. Jadi, langkah pertama, mulailah membuat daftar kata-kata terkait dengan perasaan dan setiap kali kita mengalami perasaan tertentu, coba identifikasi (kalau perlu lihat kembali daftar kita), perasaan apa gerangan itu?

 

Memberi nama membuat kita mampu  membuat jarak tentang kondisi kita. Dengan begitu, kita bis mulai mengontrolnya, menganalisis sebabnya, mempertimbangkan baik buruknya dll.

 

Setelah kita mampu mengidentifikasikan perasaan, Hogan beranjak ke kemampuan mengomunikasikan perasaan. Ini yang disebut Hogan sebagai appropriate assertiveness. Sederhananya, di sini kita mesti bisa menyampaikan perasaan kita dalam rumusan yang lebih rasional seperti formula sebagai berikut: ’ketika kamu begini begitu..(gambarkan perilaku orang lain yang mempengaruhi perasaan)‘saya merasa .. .’(sebutkan nama perasaan itu) ‘karena. .’ (berikan alasan). ’Saya ingin kamu. ..‘(sampaikan perilaku yang diinginkan).

 

Lantas, apa kaitan melek perasaan dengan fasilitator?

 

Sederhana saja. Pertama, fasilitator mesti melek perasaan agak bisa bertahan secara emosional. Kedua, dia juga mesti mengajarkan anggota kelompok agar melek perasaan sehingga komunikasi antar-anggota kelompok bisa terjalin lebih baik. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 131 + 9 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile