Menghadapi Orang dengan “Power” Berlebih

03 Juni 2012 - Posted by admin

Menghadapi Orang dengan “Power” Berlebih

Sewaktu memfasilitasi kerja kelompok ataupun pertemuan  fasilitator kadang menjumpai orang-orang yang memiliki dan menyalahgunakan “power” yang berlebih. Ini bisa ditandai dengan lagaknya yang terkesan arogan, mau menang sendiri atau melakukan kekerasan verbal (seperti mengritik sambil menjatuhkan harga diri orang lain).

 

Power yang disalahgunakan itu bisa bersumber dari sikap pribadi, dan bisa juga karena perasaan merasa memiliki posisi atau jabatan yang lebih tinggi.

 

Ada berbagai pendapat yang penulis pernah dapatkan terkait dengan menghadapi orang ber”power” ini. Seorang senior bercerita sebaiknya fasilitator menghadapinya dengan cara “menghancurkan” harga dirinya sehingga dia sadar bahwa dia sama saja dengan yang lainnya. Ada juga fasilitator yang lebih memilih mengangkat harga dirinya tinggi-tinggi sambil mencari celah agar dia mau mengikuti proses dengan lebih serius.

 

Dalam kerjanya, Lapangan Kecil biasanya memilih cara yang tidak konfrontatif. Karena kami lebih mengedepankan interaksi via komunikasi di kelompok, maka pendekatan interaksi yang kami pilih.

 

Teori yang mendasari sederhana saja, pelajaran 101 (alias pelajaran dasar) dalam komunikasi antarpribadi. Bunyinya, mereka yang memiliki power berlebih sebetulnya karena merasa independen atau tidak tergantung dari orang lain. Karenanya dia tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Kalau dia memiliki ketergantungan dengan orang lain, maka dia merasa berkepentingan untuk menjaga keberadaan orang lain (termasuk kualitas interaksi ataupun perasaan orang lain). Bayangkan saja, bila seorang siswa merasa bahwa prestasi belajarnya tergantung dari bantuan kawan-kawannya dalam mempelajari materi pelajaran, maka dia tentu tidak akan sembarangan bersikap pada kawan-kawannya.

 

Nah, konsep inilah yang diaplikasikan dalam menghadapi orang yang ber"power" itu. Proses berkelompok mesti membuat saling ketergantungan, baik yang superfisial maupun yang esensial. Ketika seseorang menemukan bahwa orang lain akan berarti bagi dirinya, maka di saat itulah dia akan mengurangi penyalahgunaan “power” yang dimilikinya.

 

Dalam sessi-sessi belajar bersama (khususnya yang berlangsung lebih dari 2 hari), kami kerap menemukan individu-individu yang kemudian menurunkan tingkat penyalahgunaan “power”nya dalam rangka berpadu atau bahkan “memimpin” orang lain. “Oh, ternyata selama ini saya tidak suka mendengar orang lain,” adalah salah satu cetusan yang kerap didengar setelah latihan mendengarkan dan juga didengarkan. Tentu kita semua merasakan bahwa menjadi orang yang didengarkan adalah sesuatu yang menyenangkan dalam hidup. Dan untuk itu, kita membutuhkan kawan yang mau mendengarkan kita. (Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 108 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile