Membangun Hubungan Nyaman Dengan Cepat

03 Juni 2012 - Posted by admin

Membangun Hubungan Nyaman Dengan Cepat

 

Di awal interaksi fasilitator mesti membangun hubungan (rapport) yang baik dengan anggota kelompok. Maksud hubungan baik di sini adalah hubungan yang membuat nyaman, baik si fasilitator maupun anggota kelompok. Dalam kerja fasilitasi, hubungan yang baik menjadi penting karena ia akan membantu tumbuhnya trust dari anggota kelompok.

 

Idealnya hubungan baik dibangun dalam waktu yang relatif panjang, yakni ketika satu sama lain saling mengenal dan menguji. Namun, dalam sejumlah kesempatan, ada kalanya fasilitator tidak memiliki waktu yang memadai dan butuh membangun hubungan secara cepat, meskipun cenderung superfisial (tingkat permukaan). Terkait dengan kebutuhan cepat itu, ada sejumlah teknik yang bisa dipertimbangkan, termasuk teknik mendengar aktif dan juga teknik-teknik lain, di antaranya adalah yang biasa digunakan praktisi NLP (Neuro-linguistic programming) seperti yang dikemukakan O’Connor and McDermott (1996). Berikut adalah teknik-teknik yang bisa dicoba.

 

·    Samakan nada, ketinggian kecepatan suara. Maksudnya bukan meniru, tapi mengharmonisasi, seperti harmonisasi instrument-instrumen musik dalam konser. Ketika lawan bicara secara lembut dan pelan, coba ikuti dulu gaya dia dengan melembutkan dan memelankan suara. Begitu juga ketika lawan bicara bersemangat dan meninggikan suara. Hindari nada sumbang atau pun ketinggian dan kecepatan yang berbeda.

 

·    Bila dimungkinkan, gunakan kata-kata atau vocabulary yang digunakan oleh lawan bicara. Ketika lawan menggunakan istilah spiteng untuk menggambarkan septic tank atau tangki tinja yang dia milliki di rumah, makan gunakan pula istilah siteng dari pada septic tank.

 

·    Paraphrasing atau mirroring untuk menunjukkan bahwa anda memahami dan menghargai  pembicaraan. 

 

·    Selaraskan juga komunikasi aspek non-verbal. Sekali lagi, ini bukan meniru, tapi harmonisasi. Bila lawan bicara matanya cenderung berbinar-binar maka tidak ada salahnya kita mengikuti. Bila lawan bicara bersikap santai di warung kopi sambil menikmati udara pagi, coba nikmati pula keadaan dan tunjukkan dalam bahasa non verbal kita.

 

·    Yang paling sulit, tapi mesti dijajagi adalah bersikap empatik terhadap lawan bicara dan menjauhi sikap menghakimi. Ketika lawan bicara menceritakan betapa enaknya makan di pojokan pasar yang menurut fasilitator jorok luar biasa, maka tunjukkan sikap bahwa makanan itu memang terlihat enak. Sikap empati ini pun mesti ditunjukkan pada pembicaraan yang menyangkut identitas, nilai ataupun jalan hidup.

 

(Risang Rimbatmaja)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 198 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile