Maksimalkan Kartu Metaplan

03 Juni 2012 - Posted by admin

Bila digunakan secara tepat, kartu metaplan dapat membantu proses diskusi. Sebaliknya, penggunaan yang kurang tepat justru dapat menghambat.

 

Kartu metaplan yang berwarna warni sudah cukup umum digunakan dalam berbagai pertemuan seperti di rapat, lokakarya, pelatihan atau bahkan pertemuan warga di kampung-kampung. Kartu metaplan memang dapat membantu proses diskusi agar mendapatkan hasil yang cemerlang. Namun, yang lebih penting, penggunaan kartu metaplan dapat “mengamankan” proses diskusi yang partisipatif, yang krusial untuk membangun komitmen, rasa memiliki (sense of ownership) dan bahkan aksi bersama (collective action).

Tulisan ini mencoba membahas penggunaan kartu metaplan untuk peningkatan partisipasi dengan menginventarisasi sejumlah kekeliruan penggunaan kartu metaplan yang umum dijumpai.

 

1. Isi kartu adalah suara partisipan

Tulisan yang diberikan seorang partisipan di kartu metaplan memang merupakan bentuk dari “suaranya”, tapi sebetulnya, kartu lebih tepat dilihat sebagai bagian dari suara partisipan. Yang dituliskan dalam kartu metaplan hanyalah sekedar simbol dari ide-ide penulis yang tentu tidak mungkin dituangkan dalam sepotong kartu kecil. Partisipan cukup menulis 1 – 3 kata kunci di kartu metaplan. Satu kartu untuk mewakili satu ide.

 

Tulisan pada kartu metaplan pun harus cukup besar untuk dapat dilihat oleh partisipan dengan jarak terjauh dari dinding penempelan. Namun, seperti kerap dijumpai, kalimat panjang berukuran kecil-kecil adalah pemandangan yang cukup umum dijumpai dalam sesi penggunaan kartu metaplan.

 

 

Landasan pemikiran di balik penulisan kata kunci berukuran cukup besar adalah:

 

1.  Selain mengindikasikan ide penulis, kartu sebaiknya dipandang seperti tiket/ tanda/ giliran untuk bicara. Karena semua partisipan mendapat kartu, maka setiap partisipan memiliki kesempatan berbicara yang sama. Sementara, ide lebih lengkap tetaplah harus disampaikan secara oral;

2.  Kartu-kartu metaplan harus dikelola lebih lanjut. Tulisan panjang yang kecil-kecil menyusahkan pengelolaan cepat. Sebaliknya penulisan kata-kata kunci yang besar akan memudahkan pengelolaan (pengelompokkan/ pembedaan ide-ide dsb).

 

Untuk menghindari kesalahan dasar penggunaan kartu metaplan, fasilitator diskusi sebaiknya menjelaskan dan mencontohkan terlebih dahulu. Penjelasan yang perlu disampaikan adalah

 

·        Penggunaan 1-3 kata-kata kunci pada kartu dan bukan kalimat panjang-panjang;

·        Penjelasan lebih rinci dilakukan secara oral oleh masing-masing penulis;

·        Satu kartu hanya diisi oleh satu ide. Tulislah ide lain di kartu berikutnya;

·        Kartu tak perlu diberi nama penulisnya. Nanti semua partisipan akan menunjukkan kartunya;

·        Tulisan hendaknya dibuat besar sehingga dapat dibaca oleh partisipan dari jarak yang paling jauh.

 

2. Kartu untuk menjaring pendapat

Penggunaan kartu metaplan memang penting untuk menjaring pendapat di mana setiap partisipan mendapat kesempatan yang sama. Dalam proses fasilitasi, inilah yang dinamai sebagai tahap divergensi.

Namun, kartu metaplan tidak boleh berhenti hanya pada menjaring pendapat. Kartu-kartu metaplan harus dikelola, entah dengan memilih, mengelompokkan, me-rangking/prioritas, membangun proses cerita berdasarkan sekuensial kejadian/waktu, menyederhanakan atau pun mengabtraksikan/mengonseptualisasi.

 

Tahapan lebih lengkap kiranya dapat digambarkan sebagai berikut.

·      Setelah ditempel di dinding, setiap kartu metaplan harus digunakan sebagai tiket bagi si empunya untuk memberikan keterangan/ klarifikasi sesuai kata kunci yang ditulisnya. Pada tahap ini kartu adalah milik penulis. Yang berhak menjelaskan adalah si penulisnya. Fasilitator dapat menggunakan teknik mendengar aktif dalam proses ini dan sesuai aturan brainstorming (curah pendapat), pada tahap ini penilaian, kritik atau celaan harus dihindari;

·      Setelah semua kartu dijelaskan oleh si empunya, maka tahap berikutnya adalah proses Konvergensi. Pengelolaan kartu yang paling sederhana adalah dengan mengelompokkan kartu berdasarkan persamaan atau perbedaannya. Ajak partisipan untuk melihat kumpulan ide-ide dalam kartu dan minta pendapat mereka tentang ide-ide yang mirip atau dapat dikelompokkan dalam kategori yang sama. Selain cara induktif yang dilakukan dengan mengkaji persamaan/ perbedaan antar kartu, pengelompokkan kartu pun bisa dilakukan secara deduktif dengan cara menyediakan matriks yang perlu diisi. Cara deduktif biasanya lebih mudah dan cepat, namun perlu digarisbawahi, sebelum diaplikasikan, fasilitator sebaiknya meminta persetujuan partisipan (informed consent);

·      Tahap kovergensi dapat berlangsung dalam sub-sub tahap tergantung keperluan diskusi. Semisal, bisa saja yang dilakukan pertama kali adalah penyederhanaan induktif. Lalu, setelah memperoleh kelompok dan memberi setiap nama baru pada setiap kelompok kartu (titling dengan kartu baru), dilakukan prioritasi dengan matriks tertentu (contohnya: urgent – less urgent, important – less important).

 

3. ”Saya yang mengatur kartu!”

Kartu yang ditempel di dinding biasanya berada di dekat fasilitator. Namun, ini bukan berarti fasilitator boleh dengan semena-mena mengatur kartu-kartu itu. Seperti telah dijelaskan di atas, kartu-kartu itu adalah milik partisipan ataupun kelompok partisipan dan bukan fasilitator. Artinya, merekalah yang berhak untuk mengatur (mengelompokkan, mengonseptualisasi, merangking, mengurangi, dan lain-lain) dan bukan hak fasilitator (meskipun fasilitator merasa tahu bagaimana melakukannya).

 

Bahkan dalam keterbatasan waktu, fasilitator tetap tidak boleh memindah, menghilangkan, menambah atau mengelompokkan kartu tanpa persetujuan atau inisiatif partisipan. Dalam keterbatasan waktu, fasilitator sebaiknya berperan sebagai pengingat waktu saja sehingga proses dapat didorong lebih cepat.

 

4. Satu kartu per partisipan

Terkadang kita membatasi jumlah kartu sewaktu mendapati banyaknya partisipan yang mengikuti pertemuan/ diskusi. Sementara, bila partisipan hanya berjumlah 10 orang, kita membolehkan setiap partisipan memperoleh 3 – 4 kartu.

 

Dalam prinsip brainstorming, jumlah kartu sebetulnya tidak boleh dibatasi. Hal ini untuk mengantisipasi ide-ide brilian yang bisa saja datang kemudian. Karenanya, ketika membagi kartu dan meminta partisipan menulis, sebaiknya kita jangan membatasi ide atau jumlah kartu yang digunakan. Biarkan partisipan menulis sebanyak-banyaknya.

 

Untuk mengurangi kartu, fasilitator dapat meminta partisipan untuk menyerahkan beberapa kartu yang telah ditulisnya. Semisal, 1 atau 2 kartu yang dianggap paling menarik, paling penting atau paling signifikan.

 

5. Gunakan kartu tebal agar keren

Sayangi lingkungan. Semakin tebal kartu metaplan yang digunakan, maka semakin banyak pohon yang Anda tumbangkan. Gunakan saja kertas hvs berwarna 70 gram yang murah meriah. Akan lebih baik lagi bila kita bisa menggunakan kertas bekas.

 

Risang Rimbatmaja, Lapangan Kecil

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 157 + 8 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile