Menghadapi Deadlock

03 Juni 2012 - Posted by admin

Menghadapi Deadlock

Dalam memfasilitasi pengambilan keputusan yang partisipatif, deadlock bukanlah hal aneh. Kadang fasilitator bisa melewatinya dengan lancar untuk kemudian mencapai konsensus. Namun, di saat lain, seperti yang pernah dialami semua fasilitator, deadlock serasa tembok keras yang sulit ditembus. Partisipan bersitegang saling tidak mau mengalah dan kita sebagai fasilitator dibuat kelelahan.

Sebagai fasilitator, apa yang kita bisa perbuat ketika kita menghadapi deadlock?Sebelum menjawab pertanyaan itu, selalu ingat bahwa tidak ada rumusan pasti dalam fasilitasi. Jadi, selalu pasang telinga, dengarlah secara aktif, analisis dan jangan takut mencoba sesuatu yang baru. Selain itu, hindari keinginan untuk hal-hal berikut.

 

Mengintervensi isi (content), semisal dengan menyatakan pilihan A lebih masuk akal, lebih baik atau lebih pas dibanding pilihan B. Atau, bahkan memutuskan pilihan tertentu (ini sih bukan fasilitator, tapi bos!).

 

Terburu-buru melakukan voting atau bahkan multivoting (suara yang dimiliki setiap orang lebih dari satu). Dalam proses fasilitasi, voting atau multivoting sebaiknya bukan untuk pengambilan keputusan (decision making) yang kritis, namun sebatas mengurangi/ merampingkan input-input partisipan (tahap awal konvergensi). Fasilitator mesti mengedepankan teknik yang lebih dialogis dari pada potong kompas dengan voting.

 

Menghindari deadlock dengan cara membelokkan, mengakhiri atau mengganti topik secara sepihak baik terang-terangan maupun dengan keahlian retorika. Kadang kita suka tergoda melakukan break atau games yang tidak relevan. Menurut hemat kami, break boleh dilakukan hanya untuk mengurangi kelelahan, memberi enerji, meningkatkan konsentrasi, memberi waktu refleksi tapi bukan untuk lobi individual ataupun menghindari pertentangan antarpartisipan.

 

Datang ke pihak yang lebih tinggi posisinya dibanding semua partisipan untuk saran, arahan atau bahkan keputusan, terutama bila diawal proses fasilitasi disepakati sebagi proses yang egaliter.

 

Menyerahkan permasalahannya pada partisipan. €œ”Ya, sekarang terserah deh. Mau bagaimana? Mau ada kesepakatan atau tidak? Terserah ibu dan bapak deh…” Itu adalah reaksi fasilitator yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Adalah menjadi kewajiban fasilitator memproses pembicaraan dan perilaku anggota kelompok untuk mencapai kesepakatan tanpa menyentuh isinya dan tetap bersikap netral.

 

Kembali ke pertanyaan di depan, apa yang kita bisa perbuat ketika kita menghadapi deadlock?

 

Kembali ke tahapan pra-pengambilan keputusan

 

Sesuai tahap fasilitasi, sebelum tahap pengambilan keputusan di mana partisipan-partisipan membuat penilaian dan menjadikan pendiriannya eksplisit, mereka berada di dalam divergensi seperti tahap curah pendapat (brainstorming) di mana semua anggota berpartisipasi tanpa beban atau tekanan.

 

Ketika fasilitator melihat arah pembicaraan yang cenderung ke deadlock atau polarisasi yang kuat, ada baiknya fasilitator mengajak partisipan kembali ke tahap curah pendapat yang tanpa beban. Semisal, dengan meminta partisipan bercurah pendapat tentang pros dan cons (atau kekuatan/kelemahan, positif/negatif, manfaat/kerugian dll) dari setiap pendirian/pendapat yang mulai mengutub (polarizing).

 

Beberapa ahli menyarankan agar fasilitator membuat kerja kelompok-kelompok kecil yang heterogen untuk membangun mutual-understanding antar partisipan. Yang perlu ditekankan di sini adalah partisipan diminta untuk melakukan proses brainstorming. Ketika mutual-understanding mulai terlihat, fasilitator dapat kembali masuk ke tahap pengambilan keputusan.

 

Memperhatikan bahasa

Fasilitator mesti sensitif memperhatikan penggunaan bahasa partisipan. Mencoba merefleksikan panduan Bens dalam bukunya Advanced Facilitation Strategies (2005) yang menyatakan bahwa ada perbedaan makna dibalik penggunaan kata pengganti, yakni saya/aku dan kami/kita (I dan we). Bahasa I (saya) cenderung lebih terbuka bagi umpan maju, spontan, dan kurang emosional. Sementara bahasa We (kami) menunjukkan posisi yang cenderung tertutup, kuat/teguh dan emosional. Untuk mendapatkan kembali anggota-anggota kelompok yang lebih terbuka terhadap umpan balik, bahasa I mesti lebih ditekankan.

 

Mendiskusikan interest bukan posisi

 

“Saya memilih A” adalah sebuah posisi, sementara alasan dibalik pemilihan A adalah interest. Ketika orang hanya melihat posisi, maka pertentangan emosional lebih mudah terjadi karena orang berdiri dengan penuh kecurigaan. “€œDia akan memilih Presiden A, pasti karena tidak menyukai Presiden B yang lebih memperhatikan kita!”€ Ini adalah kecurigaan yang berbasis posisi. Fasilitator harus membantu partisipan menyelami alasan-alasan dibalik posisi-posisi itu. Saling pengertian biasanya lebih mudah muncul ketika masing-masing orang sudah membuka interest-nya. “€œOh, kamu akan memiliki Presiden A karena kamu pikir dia lebih mengutamakan kesehatan? Sama dong. Presiden B juga akan saya pilih karena menjanjikan dana kesehatan yang lebih besar!”.€

 

Untuk mengungkap interest, fasilitator dapat menggunakan teknik mendengar aktif dan pertanyaan-pertanyaan sulit seperti kenapa mesti dikomunikasikan secara€ yang halus alias tidak memojokkan. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 117 + 9 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile