Membantu Murid Memberi Feedback

02 Juni 2012 - Posted by admin

Membantu Murid Memberi Feedback

Percakapan semacam di atas kadangkala terjadi antara murid dan guru, khususnya di PAUD/ Pre-School, TK, atau bahkan di sekolah dasar. Di sini Ibu Guru Wini bersikap responsif terhadap Eni, muridnya. Mungkin bagi Eni, Bu Guru Wini telah menunjukkan sikap yang suportif. Namun, dari aspek komunikasi, Bu Guru Wini lupa untuk mengajarkan kecakapan muridnya untuk berkomunikasi yang baik, khususnya memberi feedback.

 

Khusus untuk cerita pengaduan Eni, penting diperhatikan 2 aspek, yakni judgemental/ deskriptif dan spesifik. Bahasa seperti nakal, terlambat, malas, dll adalah bahasa judgemental yang lebih berisi penilaian atau bahkan muatan emosional ketimbang apa yang sesungguhnya terjadi. Mengatakan “Eni datang 30 lebih menit setelah waktu yang disepakati lho, kita kemarin sepakat jam 8:00 pagi”, adalah penyataan yang lebih deskriptif atau kurang judgemental, ketimbang menyatakan: “Eni datang terlambat, (apalagi ditambah:) payah kamu!”.

 

Kemampuan berkomunikasi (khususnya memberi feedback) secara deskriptif menentukan penerimaan orang laian atas ide kita. Bahasa yang judgemental cenderung menghalangi orang untuk menerima ide-ide atau masukan kita. Remeh, tapi gara-gara kemasan (bahasa judgemental) kadang isi yang brilian sekalipun kadang tidak dilirik kawan kita (dalam konteks kerja, ini berarti oleh anak buah, kolega atau atasan kita). Ketika sudah tersinggung, orang cenderung menolak dan tidak akan mempelajari idenya.

 

Yang kedua adalah spesifik. Maksudnya adalah feedback atau masukan yang disampaikan berkenaan dengan hal yang tertentu, yang bisa ditindaklanjuti. “Kemampun Pramuka Eni mesti ditingkatkan” adalah kurang spesifik dibanding: “Kemampuan tali temali Eni mesti ditingkatkan”. Bila deskriptif berkenaan dengan penerimaan, maka spesifik memberi panduan apa yang mesti diperbaiki/ dipertahankan. Masukan yang terlalu umum membuat orang tidak tahu, apa yang mesti diperbaiki/ dipertahankan?

 

Nah, kembali pada percakapan di atas. Bila Bu Guru Wini menerapkan kemampuan sebagai fasilitator, bisa jadi jalannya menjadi seperti ini:

 

Eni : “Bu Guru, Reza tuh nakal sama Ria!”

Bu Guru Wini : “Emang Reza ngapain Eni? Apa yang Eni lihat” (bantu mendeskripsikan)

Eni : “Itu, Bu. Gara-gara Reza Desi jatuh….”

Bu Guru Wini : “Wah… wah…kok bisa? Apa yang Eni lihat?” (empati, bantu mendeskripsikan)

Eni : “Itu wadah minumnya bocor, airnya ke mana-mana, eh Desi nginjak jatuh jadinya….”

Bu Guru Wini : “ Oh jadi, gara-gara bocor air ke mana-mana ya (paraphrasing: klarifikasi & rekognisi)

Eni : “Iya, Bu Guru!”

Bu Guru Wini : “Sengaja ga ya kira-kira?” (mulai memasukan nilai…)

Eni : ….

(Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 129 + 9 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile