Mengontrol orang marah

17 April 2018 - Posted by admin

Mengontrol orang marah

Dalam sebuah sesi belajar bersama kelompok guru, seorang peserta menceritakan pengalamannya menghadapi kemarahan orang tua siswa dengan kemarahan pula. Ending-nya, bisa ditebak, runyam.

Orang marah memang bisa membuat kita juga ikut marah, tapi bisa juga sebaliknya, membuat takut. Dua-duanya bukan pilihan bagus. Dan untungnya, pilihannya bukan hanya dua. Pilihan ketiga, yang terbaik, adalah stay calm.

Maksudnya, diam saja? Nanti jadi bulan-bulanan dong?

Stay calm di sini bukan berarti diam. Tapi stay in control dengan tidak bersikap difensif apalagi ikut-ikutan marah.

Orang yang marah  itu kehilangan kontrol. Bukan hanya pada dirinya, namun, juga pada orang lain. Jadi, jangan berharap kemarahan bisa mengontrol orang lain. Lah wong, mengontrol dirinya pun tidak bisa.

Juga jangan malah takut, karena saat ketakutan kita kehilangan kontrol atas diri kita sendiri dan orang lain justru akan mengendalikan kita semena-semena.

Kembali ke stay calm.

Yang dimaksud adalah aktif mengontrol percakapan yang diisi kemarahan. Prosesnya dapat dibagi dalam tiga tahap besar, yaitu:

1. Terima percakapan secara nonverbal
Tunjukkan secara nonverbal bahwa diri kita terbuka menerima kemarahan orang lain. Tunjukkan dengan mata, wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya bahwa kita mau mendengarkan.

2. Venting atau salurkan kemarahan orang dengan mendengarkan aktif
Saat orang marah-marah, dengarkan secara aktif. Jangan difensif, ngeles, membantah atau membelok-belokkan tema. Justru coba perhatikan dan temukan tema yang menjadi concern utama ybs. Bertanyalah pada orang yang marah itu (secara pendek) agar ybs bercerita semakin banyak. Kalau di-venting, kemarahan orang biasanya habis dalam 2-3 menit. Kalau “dilawan”, berjam-jam pun tidak akan ada habisnya.

3. Sampaikan pandangan lain
Bila ada pandangan lain terhadap isu yang diangkat orang yang marah itu, tanya atau minta ijin menyampaikannya. Biasanya bila “kemarahan” sudah habis di-venting, maka dia akan mau mendengarkan. Bila belum mau mendengarkan, lanjutkan venting. Bila sudah mau, silahkan sampaikan pandangan kita.

Marah itu memang cepat menular. Kita mudah tersulut marah bila dimarahi orang, apalagi jika kita merasa sejajar dengan atau lebih dari orang itu. Tapi siapapun dia, kalau kita ikut marah, ending-nya selalu runyam. Padahal urusan hidup lainnya masih banyak. Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 120 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile