Saatnya memanusiakan pembelajar Pancasila

06 Juni 2017 - Posted by admin

Saatnya memanusiakan pembelajar Pancasila

Meski bukan headline, pendidikan Pancasila kembali disebut-sebut dalam berita. Presiden dikabarkan dalam waktu dekat akan mengangkat Unit Kepala Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), yang salah satunya mengurusi cara baru pembelajaran Pancasila.Sebagai fasilitator, tentu berharap pembelajaran

Pancasila menjadi lebih partisipatif dan berfokus pada manusia. Dengan kata lain, proses belajarnya nguwongke (memanusiakan).

Dalam pengalaman kami di era 90an, partisipan yang belajar Pancasila condong dianggap objek belajar, yang perlu ditatar, yang perlu diisi dengan ide-ide tentang Pancasila beserta butiran-butirannya. Seperti robot, mereka diharuskan menyalin software tertentu ke dalam memorinya.

Padahal, sebetulnya Pancasila bisa ditemukan sendiri oleh para pembelajar itu sendiri. Catatan kehidupan, norma di masyarakat, ajaran agama, hati nurani atau pengalaman hidup sehari-hari dapat diselami kembali untuk menemukan butir-butir Pancasila. Tidak perlu didikte.

Juga, hal-hal operasional, seperti butir-butir Pancasila, mestinya boleh bervariasi. Konteks, pengalaman, persepsi, keyakinan atau penafsiran masing-masing warga negara berhak diangkat untuk menjadi pembelajaran Pancasila.

Selain untuk menghargai pembelajar, banyak alasan lain untuk mengedepankan pendekatan partisipatif.

Pertama, yang terpenting, untuk membangun rasa memiliki. Teorinya sederhana, kalau tidak ada ide saya, maka tidak ada saya di situ. Kalau saya tidak ada di situ, jangan berharap dukungan saya di situ.

Untuk konteks saat ini, induksi rasa memiliki Pancasila menjadi semakin krusial. Mengapa demikian?

Mengambil penjelasan dari teori kepemimpinan klasik, kepemimpinan bisa bersumber dari kharisma seorang pemimpin. Masalahnya, kita tampaknya kekurangan atau bahkan jangan-jangan, tidak ada pemimpin kharismatik yang  bisa mengajarkan gagasan Pancasila sedemikian rupa sehingga diyakini sebagai pengajaran yang tulus, menginspirasi dan menggerakkan hati, bisa memunculkan rasa memiliki dan pada akhirnya aksi nyata pada pihak pembelajar.

Karena sedikit atau bahkan tidak ada, kenapa harus memaksakan pengajar atau instruktur yang tidak dikenal, diragukan atau dipercaya untuk bertindak sebagai pengajar kharismatik?

Kedua, yang juga tidak kalah penting. Pembelajaran mesti sustained atau berlangsung terus menerus. Ini sejalan dengan slogan Pancasila yang tidak lekang oleh zaman.

Agar sustained, Pancasila mesti selalu ditafsirkan dan dioperasionalisasi sesuai konteks. Dan bicara tentang konteks, maka itu bicara tentang manusia. Maka itu, biarlah manusia yang menafsirkan dan mengoperasionalisasikan.

Yang ketiga, yang mungkin terdengar remeh (tapi sebagai pembelajar di tahun 90an menjadi penting) adalah: participation is fun. Belajar Pancasila tidak boleh membosankan atau membuat ngantuk. Alangkah indahnya bila belajar Pancasila disertai permainan-permainan yang menyegarkan, interaksi antarsubjek pembelajar yang nyaman dan bermanfaat untuk menguatkan komunitas, penuh dengan pengalaman nyata dan lainnya. Seperti kata professor saya dulu, kalau ngantuk, bertanyalah atau bergeraklah, maka darah diotak mengalir kembali. Dulu Sang Profesor mengatakan itu saat penataran P4 dengan model ceramah. Alhasil, saya yang ngantuk tidak berani bertanya dan tetap ngantuk.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 164 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile