Di dalam birokrasi itu manusia

28 Mei 2017 - Posted by admin

Di dalam birokrasi itu manusia

Ada feedback menarik dari sebuah forum ASN (Aparatur Spil Negara, dahulu PNS) yang diselenggarakan Bappeda sebuah kota. Forum yang ikut difasilitasi Lapangan Kecil, menurut panitia, mendapat tanggapan positif sejumlah partisipan. Katanya, mereka merasa di-wong-ke atau di-orang-kan dalam forum itu.

Feedback itu memang tidak bisa kami gali lebih jauh, karena sebatas laporan lisan pada panitia. Namun, setidaknya, feedback itu mengindikasikan bahwa di lingkungan birokrasi pun, ada kebutuhan untuk membuka ruang partisipasi.

Dalam pemahaman umum, birokrasi dipahami sebagai organisasi yang didasarkan pada hirarki untuk pengambilan keputusan. Dia dipercaya efisien karena kerjanya  didasarkan pada instruksi yang sifatnya top-down. Instruksi harus dilaksanakan dan bila tidak, mendapat disinsentif.

Namun, dalam praktiknya, ujung tombak birokrasi, khususnya mereka di unit layanan publik, acap kali tidak bisa bulat-bulat menjalankan instruksi. Hal ini karena kondisi lapangan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain.

Ketegangan antara instruksi dan kondisi lapangan tampaknya merupakan salah satu sumber kegundahan yang ingin disampaikan ASN. Namun, kebanyakan forum yang diselenggarakan di lingkungan birokrasi acapkali tidak membuka banyak ruang partisipasi.

Format pertemuan umumnya klasikal. Ada satu atau beberapa narasumber dan moderator. Diawali dengan pembukaan, doa, menyanyi Indonesia Raya, sambutan-sambutan, penyampaian materi narasumber dan terakhir tanya jawab.

Sesi tanya jawab yang berlangsung cenderung kurang memberi ruang dialog yang menghasilkan aksi atau solusi yang memuaskan. Dari sisi tema sporadik dan kesimpulannya sering “menggantung” karena tidak menegaskan tindak lanjut atau solusi tertentu.

Yang dilakukan Lapangan Kecil bersama Bappeda tempo hari sebetulnya dapat dikategorikan sebagai ruang partisipasi minimalis dari sisi waktu. Dalam waktu sekitar 1,5 jam, kami membagi forum dalam beberapa kelompok lalu mengajak kelompok memilih fasilitator.

Fasilitator berkomunikasi dengan kelompok untuk mengumpulkan masalah, mengklasifikasi dan memprioritaskannya. Isu bersama yang disepakati lintas wilayah adalah masalah penanganan sampah, khususnya Bank Sampah warga.

Setelah itu, mereka mengajak semua partisipan mengeluarkan ide untuk solusi, saling memahami ide, mengklasifikasi dan menentukan ide-ide yang feasible dan efisien. Prosesnya singkat tapi hasil sejumlah kesepakatan tampaknya cukup feasible dijalankan. Sejumlah partisipan melapor ke panitia merasa di-wong-ke dalam forum itu.

Rasanya, seperti kita, ASN juga manusia. Meski berada dalam birokrasi, mereka tetap ingin menyuarakan idenya dan didengarkan. Berada dalam birokrasi bukan berarti mereka berubah menjadi bagian dari mesin.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 141 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile