Pesan yang mengena tapi menyakitkan

24 Mei 2017 - Posted by admin

Pesan yang mengena tapi menyakitkan

Mengena di sini maksudnya mendapatkan perhatian, dipikirkan, dirasakan dan disetujui khalayak sasaran. Sementara, menyakitkan berarti membuat perasaan negatif, disetujui tapi membuat sakit hati, sedih, dll.

Ini kejadian saat memfasilitasi diskusi sekelompok warga Bekasi beberapa waktu lalu. Saat berdiskusi tentang air, kebersihan diri dan kesehatan lingkungan, topiknya bergulir ke isu diare. Menyangkut bahaya diare bagi anak, warga dengan semangat mengembangkan sendiri percakapannya.

Namun, karena bahaya yang diperbincangkan lebih fokus pada isu dehidrasi, gizi, lemah, dan lesu, kami mencoba menjembatani isu diare dengan isu stunting (anak yang pendek dibandingkan usianya, akibat masalah gizi yang kronis, berkepanjangan). Kebetulan dalam 5 tahun terakhir Lapangan Kecil kerap mengikuti kegiatan terkait isu stunting dan stunting sendiri merupakan isu besar bagi bangsa ini (37% anak Indonesia stunted).

Maka dibahaslah isu stunting, termasuk perilaku-perilaku sehat dalam 1000 hari pertama kehidupan (mulai masa kehamilan sampai anak berusia 2 tahun. Perilaku sehat yang dimaksud termasuk IMD, ASI, MPASI, sampai cuci tangan pakai sabun dan pengunaan jamban sehat).

Sesuai “narasi besar” orang kesehatan, periode 1000 hari itu merupakan masa emas pertumbuhan/ perkembangan anak. Tanpa disadari kami juga menyampaikan konsep tidak terpulihkan, yang merupakan salah satu istilah dalam dalam narasi tentang 1000 hari pertama kehidupan. Sekedar memberiilustrasi, bila otak yang berkembang hanya 50% selama 1000 hari itu, maka begitulah seterusnya sampai liang lahat.

Sebuah blunder terjadi.

Seorang ibu mulai bertanya, “Jika anak tidak diberi susu formula, bagaimana nasibnya?” Setelah digali, didapat cerita, “katanya ASI ga keluar, langsung dikasih….” Lalu muncul cerita-cerita lain. Satu Ibu kami amati mulai terisak, menangis. 

Mereka memiliki anak yang berusia di atas 2 tahun. Sepanjang 1000 hari pertama kehidupan anak itu perilaku-perilaku sehat itu tidak dipraktikkan. Dan semua itu tidak bisa dibayar kembali? Akibatnya tidak bisa dipulihkan? Tidak ada lagi yang bisa diperbuat? Itu yang membuat mereka sedih.

Saat itu kami menyadari, sebuah kesalahan dalam mengelola percakapan hari minggu pagi itu. Mengikuti pesan standar mentah-mentah tanpa mengindahkan konteks sangat berbahaya. Meski pesannya benar, rasanya, tidak perlu selalu disampaikan apa adanya. www.lapangankecil.org

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 191 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile