Guru “galak”

08 November 2016 - Posted by admin

Guru “galak”

Suatu hari keponakan yang baru masuk SMP favorit saya tanya, “Bagaimana SMP, enak ga?” Jawabannya agak mengagetkan, “Ga enak, om. Guru-gurunya galak.”

Karena galak itu istilah yang judgmental, maka saya mencoba bertanya-tanya apa yang dia maksud.

Setelah mendengar ceritanya, saya sedikit tergambar bagaimana praktik sebagian gurunya. Ada kasus murid bertanya, malah dibilang tidak membaca buku pelajaran. Saat ada yang tidak bisa menjawab atau salah menjawab pertanyaan guru, si murid disebut pemalas dan lain sebagainya.

Sedih juga mendengar praktik sebagian guru yang semacam itu.

Saya paham bahwa dalam rangka pembelajaran feedback negatif kadang-kadang diperlukan. Namun, untuk awal masa pembelajaran, feedback negatif perlu dihindari.

Saya teringat kata-kata Angela Duckworth, before hardwork comes plays. Lengkapnya dalam buku berjudul Grit: the power of passion and preserverance, Angela mengatakan: Jadi begini, untuk orang tua atau yang mau jadi orang tua ataupun semuanya, saya punya satu pesan, sebelum [anak-anak] kerja keras [biarkan mereka] main-main dulu.

Persoalan adalah minat. Kalau anak sudah memiliki minat yang tinggi, maka dia akan akan senang untuk belajar dan berlatih keras.

Angela mengutip temuan Benyamin Bloom, psikolog, yang mewawancarai 120 orang yang memiliki prestasi di tingkat dunia dalam bidang olah raga, seni atau ilmu dan juga orang tua, para pelatih, dan guru-guru mereka. Menurut Bloom, ada tiga tahap penting yang umumnya dilalui orang-orang sukses, 1) the early years, 2) the middle years dan 3) the later years. Yang pertama terkait dengan penemuan dan pengembangan minat. Yang kedua adalah seputar berlatih dan kerja keras. Yang ketiga adalah penemuan tujuan yang lebih besar. Bagi orang-orang sukses itu, masing-masing tahap dilalui dengan pola yang hampir serupa.

Dalam tahap pertama, berdasarkan dari pengalaman orang-orang sukses, mereka memiliki guru yang hangat dan suportif. Pembelajarannya menyenangkan, rileks dan seperti bermain. Mereka diberi otonomi atau ruang untuk mencoba hal-hal yang mereka inginkan. Mereka kemudian akan memilih sedniri bidang yang disukai.

Pengalaman mencoba bidang-bidang lain ternyata tidak sia-sia, karena merupakan cross learning yang membantu pembelajaran pada bidang pilihan, baik dari aspek kognitif, maupum keterampilan dan fisik.

Kembali pada pengalaman keponakan saya. Kalau di awal-awal saja guru sudah bersikap “galak”, agak berat bagi murid-murid untuk menumbuhkan minat belajar. Kalau tidak ada minat, agak susah mengharapkan murid-murid tekun bekerja keras. Tanpa kerja keras, sulit meraih prestasi.

Jangan salah, saya tidak anti “galak”. Bersikap “galak” boleh-boleh saja, tapi mungkin nanti saja, ditahap kedua. Saat murid sudah memiliki minat tinggi dan bekerja keras mencapai mimpinya, boleh saja guru bersikap “galak” untuk melecut semangatnya.

Watson Drive, Dublin, 8 November 2016

www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 154 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile