Si Pemberi

29 September 2016 - Posted by admin

Si Pemberi

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (Al Isra: 29).

Ayat di atas saya kutip gara-gara membaca Buku Adam Grant, Give and Take, yang memaparkan dengan banyak data dan cerita, bagaimana kesuksesan seseorang terkait dengan perilakunya berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, dituliskan bahwa perilakunya itu lebih penting dibandingkan dengan hal yang umum diketahui, seperti kerja keras, bakat atau keberuntungan.

Ada tiga gaya perilaku timbal balik (reciprocity) antarmanusia yang utama, takers, matchers, dan givers.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, takers selalu ingin mengambil. Kalau pun memberi, maka itu dalam rangka untuk mengambil lebih banyak. Dia masuk dalam jaringan pertemanan dalam rangka mengambil atau mendapatkan keuntungan. Pikirannya lebih ke kepentingannya sendiri. Kalau tidak ada yang bisa diambil dari seseorang sekarang atau jangka panjang, mungkin dia tidak akan berinteraksi dengannya.

Di lain sisi, matchers itu memberi karena diberi. Atau berharap diberi karena sudah memberi. Matchers selalu berharap timbal balik yang seimbang. Kalau dia telah memberi, tapi kemudian tidak balik diberi, maka sungguh kesal hatinya. Dia pun akan merasa tidak nyaman kalau tidak memberi, jika sebelumnya dia telah diberi.

Givers, sesuai namanya, itu tukang memberi. Tidak peduli apakah nanti akan akan diberi balik atau tidak, dia tetap memberi. Dia berorientasi pada kepentingan orang lain. Dia merasa senang memberi. Dia bahkan mengantisipasi kebutuhan orang lain.

Grant mempelajari hasil-hasil penelitian terkait dengan gaya timbal balik dan kesuksesan atau pencapaian seseorang.

Di dunia engineering dia menemukan bahwa engineer yang paling tidak produktif dan efektif adalah mereka yang cenderung givers. Sebuah studi di California, yang dikutipnya, menunjukkan engineer dengan skor terendah untuk berbagai aspek, seperti penulisan laporan teknis, penyelesaian gambar, ketepatan waktu, jumlah error, dll, adalah givers.

Pada statistik lain, Grant menemukan givers berpendapatan 14% lebih rendah dari lainnya dan  berisko menjadi korban kriminalitas dua kali lipat. Di sektor pendidikan, sebuah studi di Belgia, menunjukkan mahasiswa kedokteran yang skornya rendah memiliki skor givers yang tinggi. Dalam dunia penjualan, tenaga sales yang memiliki skor penjualan yang paling rendah adalah givers.

Jadi, givers itu pecundang?

Ternyata sebaliknya. Data yang sama justru menunjukkan pembelahan yang ekstrim. Data studi tentang para engineer di atas juga menunjukkan bahwa engineer yang memikili skor tertinggi adalah givers. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang nilainya paling tinggi adalah givers. Tenaga-tenaga sales dengan penjualan paling tinggi adalah givers.

Jadi givers menempati posisi rendah maupun paling tinggi. Di tengah-tengahnya adalah para matchers dan takers.

Jadi, bagaimana givers yang sukses itu?

Intinya adalah givers yang sukses itu bukan yang self-sacrificing givers, yang sama sekali tidak memiliki perhatian pada kepentingannya sendiri. Tapi, sukses adalah yang givers yang otherish, yang memiliki perhatian pada orang lain dengan tetap mempertahankan kepentingannya sendiri.

Mungkin perlu tulisan lain untuk membahas tentang givers yang self-sacrificing dan otherish. Sebagai penutup, ada lagi ayat yang menarik terkait dengan hubungan timbal balik manusia sbb.:

Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Al Muddassir: 5)

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org  pascasubuh di Khartoum

Komentar

aly anwar, 05 Januari 2017 07:48:14
Thanks, mas risang
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 157 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile