Kenapa mesti berkunjung ke sekolah-sekolah kita dulu

05 September 2016 - Posted by admin

Kenapa mesti berkunjung ke sekolah-sekolah kita dulu

Beberapa waktu lalu seorang kawan posting di FB tentang kunjungannya ke sekolah SMP-nya dulu. Dia ceritakan kondisinya saat ini yang banyak berubah dibandingkan dulu waktu dia jadi siswi. Juga, jajaran guru-guru yang semua berganti.

Mungkin terkesan remeh, namun apa yang dilakukan kawan itu sesungguhnya punya dampak besar.

Setidaknya, itu pelajaran Adam Grant, dalam bukunya berjudul Give and Take, saat memaparkan teorinya tentang bagaimana menjaga motivasi.

Singkat cerita, tipe orang menentukan cara motivasi. Menurutnya, ada tiga tipe utama: givers, takers dan matchers.

Givers adalah tipe orang yang suka membantu orang, memikirkan cara membantu orang. Mereka mendahulukan kepentingan orang lain. Sebaliknya, takers adalah orang yang mengambil lebih banyak dari pada memberi. Mereka mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Tipe ketiga, matchers, orang yang memberi sepadan dengan yang diterima (“Lu baik, gua juga baik”).

Pada suatu waktu, Grant diminta untuk melatih tenaga-tenaga penghimpun dana (fundraiser) di sebuah kampus. Kerja fundraising ternyata banyak lika-likunya. Menghimpun dana alumni tidak semudah yang dibayangkan. Kadang, kalau ditelephon ada yang memutus percakapan, padahal baru satu dua kalimat.

Saat mempelajari tipe para penghimpuan dana, Grant menemukan orang-orang yang masuk dalam tipe takers memperoleh donatur yang lebih banyak dibandingkan givers. Para taker memperoleh rata-rata 30 donatur per minggu, sementara para givers memperoleh 10 donatur per minggu.

Menjadi pertanyaan, dibandingkan takers, kenapa para giver, yang termotivasi untuk membantu orang, justru memiliki capaian lebih rendah?

Grant kemudian membuat eksperimen. Dia menemui seorang mahasiwa penerima beasiswa (dari dana yang dihimpun dari alumni) dan memintanya menulis surat tentang manfaat beasiswa.

Surat yang dibuat mengisahkan betapa kampus itu merupakan mimpi dalam hidupnya dan menyadari uang sekolah begitu mahal, mimpinya terkabul melalui beasiswa yang diterimanya. Dengan beasiswa itu banyak hal dalam hidupnya kini telah berubah.

Surat pendek itu kemudian dibacakan di kelas kepada para penghimpun dana. Setelah surat itu dibacakan, dalam waktu seminggu, para giver berhasil menghimpun dana yang sama dengan para taker.

Grant kemudian membuat kegiatan tambahan. Dia mempertemukan para penghimpun dana dengan para penerima dana untuk saling berinteraksi dan mengenal. Setelah kegiatan itu, semua penghimpun dana lebih termotivasi untuk menghimpun dana alumni. Namun, secara khusus, capaian para giver melesat jauh meninggalkan para taker.

Sesuai dengan teorinya, takers termotivasi dengan apa yang didapatnya. Sebagai penghimpun dana, mereka termasuk yang berpenghasilan tinggi di kampus dan itu menjadi sumber motivasinya.

Di sisi lain, sumber motivasi givers adalah impak pada penerima manfaat. Ketika apa dilakukan dilihatnya membawa manfaat pada orang lain, maka itu membuatnya lebih bersemangat untuk berbuat bagi orang lain. Sebaliknya, bila tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain, datang keletihan dan pada akhirnya, itu akan menghancurkan semangatnya.

Ternyata, selama ini para giver dari jajaran penghimpun dana kurang termotivasi karena merasa kerjanya tidak bermanfaat bagi orang lain. Ketika diketahui bahwa kerjanya berimpak pada orang lain, dia akan merasa lebih bersemangat.

Lantas, apa hubungannya dengan kisah kunjungan ke sekolah dari kawan saya di atas?

Kebanyakan guru adalah tipe giver. Dan Grant menggarisbawahi bahwa guru rentan akan keletihan atau kehilangan motivasi karena karakter pendidikan yang unik.

Mereka tidak bisa melihat impak pada siswa dalam jangka pendek. Banyak guru yang berusaha keras “merubah siswa” tapi kemudian secara bertahap kehilangan semangat bila tidak melihat hasilnya. Tanpa semangat, kualitas mendidik dapat menurun.

Padahal, apa yang diajarkan guru baru orang sadari dan merubah sikap perilaku mereka setelah lulus sekolah.

Apa yang dilakukan kawan saya, mengunjugi sekolah dan menemui guru-guru adalah salah satu cara memotivasi guru (selain memotivasi kita sendiri). Saat itu, kita datang menunjukkan impak guru pada diri kita.

Keberhasilan siswa tidak selalu bicara materi (jadi orang kaya raya, menjabat atau berkuasa). Ketika guru melihat siswanya menjadi orang yang berahlak baik, santun, peduli sesama, itu pun menjadi sumber kebahagian tersendiri baginya. Termasuk di sini ketika siswanya menjadi pendamping, pendamping kelompok miskin, anak-anak marjinal, para pengrajin, ibu-ibu kampung atau kelompok lainnya. Guru-guru tentu merasa bahagia melihat siswanya menjadi seseorang yang membantu orang lain. Moga-moga, semangat mereka mengajar pun terjaga.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 135 + 6 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile