Pemberdayaan: Individual vs. Komunitas

03 Juni 2012 - Posted by admin

Pemberdayaan: Individual vs. Komunitas

Dalam sebuah diskusi program pemberdayaan masyarakat seorang pejabat menekankan pentingnya keberhasilan program, yang menurutnya, ditandai dengan perubahan sejumlah aspek, di antaranya peningkatan pengetahuan  dan keterampilan, perubahan sikap dan juga perilaku yang sesuai pesan-pesan yang disampaikan program.

 

Bila itu merupakan pemberdayaan yang sifatnya individual, mungkin tidak keliru. Khususnya bila pemberdayaan ditujukan bagi peningkatan kapasitas individual yang belanjut, seperti keterampilan mencari nafkah dan sebagainya.

 

Namun, karena konteksnya adalah program pemberdayaan masyarakat, rasanya ada komponen penting yang terlupakan.

 

Merujuk salah satu literatur yang mainstream, pemberdayaan (empowerment) didefinisikan sebagai … a process, or mechanism, by which people, organizations and communities gain mastery over their affairs (Wolff, 1987 diambil dari Shera dan Wells, 1999). Di sini, pemberdayaan lebih menekankan aspek kemampuan masyarakat dalam membereskan urusan-urusannya sendiri ketimbang bergantung pada bantuan pihak eksternal.

 

Agar mampu menyelesaikan urusannya sendiri, masyarakat atau komunitas perlu memiliki kemampuan dalam bersama-sama berpikir, belajar, berdialog, berkonsensus dan bekerja sama. Karena itu, dalam berbagai literatur, salah satu indikator dari pemberdayaan masyarakat adalah tingkat solidaritas (solidarity), saling pengertian (shared understanding), dan kerjasama (shared action).

 

Lain halnya bila pemberdayaan itu ditujuan untuk tingkat individual, indikator yang digunakan bisa mencakup derajat otonomi (autonomy), mastery (khususnya penguasaan keterampilan-keterampilan tertentu) dan lain-lain di tingkat individual.

 

Untuk pemberdayaan masyarakat yang lebih diperlukan adalah fasilitator (pihak netral yang membantu proses bermasyarakat ketimbang content). Khususnya, developmental facilitator atau yang membantu masyarakat memiliki kapasitas dalam berdialog, saling memahami, membuat konsensus, dan bekerjsama. Sementara, untuk pemberdayaan tingkat individual, coach/ trainer/ mentor/ pendamping lebih dibutuhkan. (Risang Rimbatmaja)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 164 + 6 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile