Ciri dampingan yang akan sukses

02 Agustus 2016 - Posted by admin

Ciri dampingan yang akan sukses

Pendamping, termasuk guru, pendamping di kelas atau lapangan, acapkali gembira mendapat dampingan yang penuh semangat menggebu-gebu, berbakat dan pintar pula. Belajar sedikit, langsung menguasai. Aktif, rajin bertanya dan berbagi.

Tapi, tahukah Anda bahwa bakat, pintar atau aktif bukan jaminan keberhasilan? Semangat menggebu-gebu di awal malah kadang berujung pada kegagalan.

Beberapa pengalaman saya justru menunjukkan bahwa sebagian dari mereka yang heboh di awal-awal, hanya hangat-hangat tai ayam. Dalam perjalanannya, entah karena tidak fokus, sibuk sana sini, justru melempem.

Kebanyakan yang berhasil awalnya justru tidak terlalu menonjol. Malah tertatih-tatih. Tapi konsisten. Tidak habis-habisan, tapi terus menerus. Sehingga, yang awalnya biasa-biasa saja, lambat laun mulai tampak capaiannya.

Saya sebetulnya tidak terlalu memperhatikan masalah ini sampai akhirnya mendapat buku Angela Duckworth berjudul Grit, the power of passion and perseverance. Di sana dijelaskan bakat, IQ bukan penentu keberhasilan.

Keberhasilan juga bukan milik orang yang kerja habis-habisan, intensif dalam jangka pendek.

Melalui penelitian panjang, termasuk mempelajari penelitian ahli-ahli terdahulu, Duckworth sampai pada kesimpulan bahwa yang menentukan adalah grit, gairah (passion) seseorang dalam jangka panjang pada suatu hal dibarengi ketekunan (preseverance) untuk mencapai tujuannya.

Semua orang-orang sampai pada pencapaian hebat di dunia bisa dipahami dari grit-nya. Mereka menyukai apa yang dikerjakan. Bukan fall in love pada yang dikerjakan, tapi stay in love, karena mereka melakukannya terus menerus.  Mereka selalu menyelesaikan apa yang mereka mulai.

Mereka fokus pada satu bidang dan punya tujuan utama dalam hidup. Tidak mencle-mencle ke sana ke mari. Mereka tidak bingung memilih apa yang mau dikerjakan, tapi tegas menentukan apa yang tidak akan mereka kerjakan.

Sementara, bakat adalah mitos. Ketika kita tidak bisa menjelaskan kenapa seorang atlit begitu skillful, kita mengatakan dia dikarunia bakat. Padahal, dibalik itu, ribuan jam sudah dia dedikasikan untuk berlatih dan terus menerus berlatih.

Kalaupun seseorang memiliki bakat (yang ditunjukkan dari kecepatan menguasai/ memperlajari sesuatu), maka faktor yang lebih berperan adalah effort. Rumusanya adalah:

Talent x effort = skill, lalu dilanjutkan dengan skill x effort = achievement

Banyak contoh orang-orang dengan pencapaian hebat dalam buku itu. Yang mengingatkan agar jangan mudah terkesima dengan dampingan yang heboh-heboh (di awal). Justru, perhatikan mereka yang biasa-biasa saja atau malah yang tertatih-tatih, tapi istiqomah.

Namun, yang terpenting tentang pembelajaran mengenai grit ini mungkin bukan buat siapa-siapa. Tapi justru buat diri sendiri.

Risang Rimbatmaja. www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 124 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile