Communicative, bukan talkative

27 Juni 2016 - Posted by admin

Communicative, bukan talkative

Sebelum memulai sesi pelatihan komunikasi bersama sekumpulan bidan, seorang peserta bercerita kalau saat ini bidan-bidan senior yang laris manis justru yang tidak banyak berbicara. “Yang cerewet malah tidak laku dan bidan-bidan muda mulai tahu. Jadi, mereka pikir untuk apa banyak ngomong, menasehati ini itu,” ujarnya.

Saya meminta ijin untuk meletakkan pendapatnya di parking lot dan mengajak peserta itu mengikuti proses pelatihan untuk nanti kemudian bersama-sama mendiskusikan isunya.

Di penghujung sesi, peserta diajak melihat kembali isu cerewet tidak cerewet di atas.

Ternyata cukup banyak yang menyadari bahwa menjadi seseorang yang komunikatif itu bukan berati banyak bicara.

Menjadi communicative berbeda dengan menjadi talkative. Seseorang yang komunikatif itu lebih banyak mendengarkan, ketimbang berbicara. Membangun dialog bersama-sama, bukan mendominasi percakapan.

Jadi, banyak kemungkinan klien-klien bidan cerewet pada “lari” karena merasa tidak nyaman, apalagi dihargai. Jangankan klien-klien para bidan, kita saja maunya kabur dari rekan yang kerjanya bicara terus, yang tidak memberi kesempatan kita bercerita atau memperhatikan kondisi kita.

Juga, menjadi communicative itu tidak selalu verbal. Tapi bisa juga nonverbal. Untuk yang ini saya jadi teringat pengalaman saya mengoberservasi komunikasi seorang dokter yang ramai betul pengunjungnya (lihat http://www.lapangankecil.org/refleksi_dan_riset68_pelajaran_komunikasi_dari_seorang_dokter_.html). Si dokter tidak banyak bicara. Tapi dia bertanya dan selalu menyimak dengan baik cerita pasiennya. Saat itu, mata, wajah, gerak tubuh, terlihat “berbicara” lebih kuat.

Seseorang yang talkative bisa jadi cerewet melarang ini itu atau menasehati ini itu. Tapi, seseorang yang communicative berusaha saling memahami dan karenanya, perubahan perilaku terjadi karena saling mempengaruhi.

Orang tua tidak bisa mempengaruhi anak agar rajin belajar tanpa dia sendiri dipengaruhi anak (atas harapan-harapan anak, semisal menghargai proses belajar anak, terlibat dalam pembelajaran dan lain sebagainya).

Tulisan ini sekedar catatan untuk para pendamping yang pendiam. Tidak menjadi masalah sama sekali. Kalau diamnya Anda adalah karena untuk memperhatikan, memahami atau menghargai, maka itu jauh lebih baik ketimbang cerewetnya seorang pendamping untuk pamer, menyombongkan diri atau malah mengarang-ngarang cerita.

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile