Mengapa Anda menjadi pendamping?

04 Juni 2016 - Posted by admin

Mengapa Anda menjadi pendamping?

Saya suka bertanya pada kawan-kawan pendamping, mengapa Anda menjadi pendamping?

Jawaban yang diperoleh beragam dan bisa dikategorisasi.

Ada yang menekankan manfaat pada klien. Contohnya, “Ingin merubah perilaku warga agar mereka tetap sehat.”, “Saya mau buat warga menjadi mandiri.”

Ada pula jawaban-jawaban terkait efektivitas metode, seperti  “Pendampingan lebih efektif dari pada sekedar sosialisasi.”

Ada pula jawaban terkait dengan urusan kantor atau administrasi.  “Tugas.”

Ada pula yang mengatakan kerja pendamping itu sesuatu yang menyenangkan dan dibayar pula.

Jawaban-jawaban itu, tentu saja, sahih. Tinggal ditambahkan satu alasan yang kadang tak disadari namun sebetulnya, dirasakan, yaitu: kerja pendampingan meningkatkan kualitas diri Si Pendamping itu sendiri.

Kerja pendampingan, bermanfaat buat diri sendiri, tidak hanya untuk orang lain, komunitas, atau kantor. Bahkan, jangan-jangan manfaat terbesarnya adalah untuk diri sendiri.

Praktik kebaikan itu manfaatnya berpulang pada pelaku, khususnya bila dilakukan tulus (expecting nothing in return atau dalam agama Islam, lillahi ta'ala). Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.

Banyak contohnya.

Saat pendamping memberi senyum, kita sebetulnya tengah membuat nyaman diri kita sendiri, mengurangi tekanan, memantik kreativitas dan kemampuan analisis, dan membangun mood berinteraksi supaya kemampuan kita bisa keluar secara maksimal.

Mirip saat mencuri start dalam memberi salam. Salam yang kita sampaikan, sebetulnya untuk diri kita sendiri.

Sewaktu kita mendengarkan dengan baik. Saat itu, kita sebetulnya tengah menguatkan kecakapannya dalam membangun hubungan sekaligus mengolah dan menganalisis informasi. Karena itu, tak heran bila kemampuan mendengarkan membantu banyak wirausahawan untuk sukses. Saya pribadi banyak melihat pendamping usaha yang bertambah sukses bisnisnya.

Saat pendamping mengunjungi banyak dampingannya (bersilaturahmi), sebetulnya dia dalam proses menambah kesehatan, rejeki, umurnya.

Pada saat pendamping berbagi ilmu, pendamping sebetulnya tengah menambah ilmunya. Untuk yang ini, saya pribadi mengalaminya langsung lewat perjalanan mengajar lebih dari 15 tahun.

Saya mengajar bukan karena “saya pintar”, sama sekali bukan. Tapi justru, saat saya mengajar, saya jadi lebih banyak membaca buku, menyusun pengalaman-pengalaman lapangan menjadi pengetahuan yang lebih sistematis dan mengujinya kembali di kelas. Jadi, justru karena mengajar, saya bertambah ilmu.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa Anda menjadi pendamping? Bila kita tahu bahwa ada manfaat besar dari pekerjaan itu bagi diri kita sendiri, moga-moga pendampingan selalu dikerjakan dengan hati.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 188 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile