Jumping into solution

02 Juni 2016 - Posted by admin

Jumping into solution

Dalam pertemuan bersama tim sebuah kementerian, seorang konsultan memaparkan hasil kunjungan awalnya. Katanya, warga desa-desa tidak mau dipindah, kecuali diberi ganti untung secara serempak bagi semua. “Pokoknya tidak boleh sebagian-sebagian dulu. Musyawarah juga tidak mau datang, kalau tidak ada jaminan bahwa pembayaran dilakukan serempak.”

Mendengar temuan awal konsultan, tim bereaksi dengan meminta konsultan mencarikan solusi. “Jadi harus bagaimana, apakah kita bisa meminta bupati membujuk warga? Atau mungkin dijelaskan bahwa anggaran kementerian itu multiyears, tidak mungkin membayar ganti untung semua secara serempak?”

Diskusi kemudian mengarah pada solusi, apa yang harus dilakukan agar warga mau menerima pembayaran ganti rugi bertahap (sebagian warga tahun ini, dan tahun berikutnya sebagian lain dst.).

Ini adalah contoh dari proses jumping into solution. Karena solusi dicari tanpa memahami betul apa masalahnya.

Warga desa tidak mau dipindah kecuali dibayar serempak adalah position. Kita memang perlu tahu position seseorang atau kelompok, tapi untuk sampai pada solution, kita perlu tahu lebih dalam. Kita perlu memahami interest, atau apa yang menjadi dasar, argumen, alasan, kepentingan seseorang atau kelompok sehingga menetapkan suatu position.

Tanpa memahami interest, kita tidak bisa menawarkan solusi.

Sekedar contoh. Bila kelompok warga tidak mau pindah (position), karena takut sebagian dibayar dan sebagian lainnya tidak dibayar (ingat kasus Lapindo, yang sebagian lain terkatung-katung pembayarannya), maka solusi dapat diarahkan pada bagaimana menjamin pembayaran itu akan terjadi, meski tidak serempak. Apakah perlu ada dokumen berkekuatan hukum dengan menetapkan penalti bila terlambat? Atau cara menjamin lainnya.

Bila kelompok warga tidak mau pindah (position), karena takut tidak mendapat tempat bersama untuk ditempati (interest), mungkin solusinya bisa mengarah pada penyedian lahan, relokasi atau lainnya.

Jadi, solusi itu bisa beragam. Tergantung interest-nya. Untuk memahaminya, kita perlu banyak bertanya/ mendengar warga masyarakat untuk memahami interest mereka. Tanpa itu, seorang pakar pun bisa salah merumuskan solusi.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Komentar

badiatul chusnia, 02 Juni 2016 17:12:07
pada akhirnya bisa bermuara pada win win solution
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 129 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile