Komunikasi bukan sekedar keterampilan

20 April 2016 - Posted by admin

Komunikasi bukan sekedar keterampilan

 

Baru-baru ini seorang kawan menunjukkan video pembelajaran komunikasi antarpribadi. Di video itu ditampilkan berbagai praktik komunikasi yang salah dan kemudian ditampilkan versi yang benar. Video itu ditujukan untuk orang-orang yang memberi layanan publik, dengan harapan mereka dapat belajar dan memperbaiki diri.

Melihat video itu, saya jadi teringat dengan situasi komunikasi sebuah departmen komunikasi di salah satu kampus, yang saya tidak ingin menyebutnya. Ceritanya, pada suatu masa para pengajar komunikasi di sana  tidak akur, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kelompok-kelompok saling membicarakan kejelekan kelompok lain. Kepentingan kelompok diutamakan. Mereka tidak mampu berkomunikasi dengan baik satu sama lain untuk membangun kolaborasi. Padahal mereka ahli komunikasi.

Ilmuwan komunikasi belum tentu bisa berkomunikasi dengan baik.

Butuh hal lain selain pengetahuan dan keterampilan agar dapat berkomunikasi dengan baik dalam kehidupan nyata. Ada yang mengatakannya sebagai: hati, nilai, sikap, mental, ideologi, atau paradigma. Apapun istilahnya, yang jelas itu lebih dalam dari sekedar pengetahuan dan keterampilan.

Betapun Anda ahli di bidang komunikasi nonverbal (sehingga, misalnya, Anda bisa dengan mudah menampilkan wajah empatik), namun bila hati Anda sebetulnya tidak betul-betul tulus untuk berempati, maka akan ada waktunya orang-orang dapat melihat kepalsuan itu. Bahkan, bukan tidak mungkin, ada kejadian dalam interaksi yang membuat Anda kesal sehingga bisa meledak, membuka kedok Anda.

Sebaliknya, kita sering melihat orang-orang yang cakap berkomunikasi sehingga dapat berkawan banyak. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah belajar ilmu komunikasi atau menguasai teknik (kosakata) ilmu komunikasi.

Hati mereka yang baik telah menuntun cara berkomunikasi yang baik.

Lantas apa hubungan semua cerita ini dengan video pembelajaran di atas?

Poinnya adalah pembelajaran komunikasi tidak boleh hanya direduksi sebatas urusan menguasai suatu teknik atau keterampilan. Komunikasi bukan masalah teknik yang betul atau salah. Komunikasi bukan hanya instrumen (untuk menyampaikan suatu pesan atau  mempengaruhi orang).

Komunikasi antarmanusia itu urusan hati. Karena itu, pembelajaran ilmu komunikasi pertama-tama mesti mengarah ke dalam (hati, nilai, sikap, mental, ideologi, paradigma atau apapun namanya). Tanpa itu, keterampilan belum tentu bisa atau mau diterapkan. Atau jangan-jangan, keterampilan justru digunakan untuk memanipulasi. Ini kita perlu hindari. (Risang R. Lapangan Kecil)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 196 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile