Tanda-tanda orang suka dan tidak suka

13 Januari 2016 - Posted by admin

Dalam sesi belajar saya kerap melontarkan dua pertanyaan pada para pendamping, “Ayo kawan-kawan pendamping, ceritakan pengalaman Anda, apa tanda-tanda warga sudah menerima Anda?” atau “Hal-hal apa yang menunjukkan bahwa warga sudah menyukai Anda?”

Jawaban yang muncul biasanya beragam. “Dipanggil dengan nama”; “Kalau kita bicara, mereka terlihat mendengarkan dengan baik”; “Kalau lagi jalan ditegur dan diajak mampir”; “Diberi senyum manis”; “Dikasih oleh-oleh waktu pulang”; “Ditahan-tahan agar ga cepat-cepat pulang”

Umumnya, jawaban-jawaban yang terkumpul bisa dikatakan betul dalam situasi interaksi yang normal.  

“Wow, betul sekali!” “Nah, berikutnya, apa tanda-tanda Anda belum diterima oleh warga?”

Jawaban-jawabannya juga beragam. “Kalau bertemu melengos”, “Kami undang ga mau datang”, “Baeud saja kalau diajak ngomong”; “Ga mau natap mata kalau diajak ngomong”; “Kekeuh dengan pendapatnya”

“Ya, semuanya tidak betul!”demikian saya kerap merespon.

 Respon itu membuat bingung dan memicu pertanyaan. “Bagaimana bisa dibilang tidak betul, bukankah itu tanda-tanda umum orang tidak suka dengan kita?” ujar kawan-kawan pendamping.

Jawabannya kurang lebih sebagai berikut. “Itu semua hanya prasangka, belum tentu betul. Orang melengos, belum tentu karena tidak suka Anda. Bisa jadi memang ada yang mendadak ingin dilihat. Orang wajah baeud atau cemberut bisa jadi karena dari lahir mukanya memang begitu, bukan karena tidak suka sama Anda. Kalau pandangan mata mah, siapa tahu dia lagi mikirin sesuatu, jadi ga sengaja menatap tanah atau melihatnya ga ke mata Anda. Terus, kalau kekeuh atau tidak mau berubah pendapat, itu sih bagus, karena artinya dia punya pendirian, bukan berarti ga suka sama Anda.”

Pendamping biasanya mendebat, “Lha, kalau gitu, tadi itu, tanda-tanda orang menerima kita, juga belum tentu betul dong. Bisa saja dia senyum tapi pikirannya nyinyir sama kita. Bisa saja dia ngajak mampir cuma basa-basi doang. Iya, kan?”

“Iya, memang betul juga. Tapi, pertanyaannya begini, apakah Anda suka dikasih senyum, didengarkan, atau diajak mampir? Suka ga dikasih oleh-oleh? Atau justru lebih suka dicemberutin sama warga? Mau dicuekin?”

Tentu saja, pendamping lebih suka diberi senyum, didengarkan dan diterima warga, karena itu membuat kerja pendamping lebih menyenangkan.

Namun, saat tanda-tanda yang ditunjukkan warga berbeda, seperti cemberut, buang muka, dan lain-lain, maka pendamping tidak perlu menyimpulkan secara prematur bahwa warga tidak suka atau tidak menerima kehadirannya.

Pendamping tidak perlu berburuk sangka. Karena prasangka buruk justru akan memperburuk interaksi. Kalau kita berpikir sekelompok warga tidak menyukai kita, maka perilaku kita akan menyesuaikan dengan pikiran itu. Kitanya jadi enggan atau “asal-asalan” mendampingi kelompok warga. Kerja pendampingan pun jadi kurang optimal.

Dari pada berprasangka, lebih baik melihatnya sebagai tanda-tanda biasa yang perlu dipelajari lagi dengan interaksi lanjutan. Di sini, pendamping dapat menerapkan teknik-teknik interaksi untuk mengklarifikasi sikap orang.

Jadi, sebelum dipastikan betul, berprasangkalah positif supaya kerja pendampingan menjadi lebih nyaman, menyenangkan, dan tidak ada beban aneh-aneh. Dan kalau pun pada akhirnya diketahui bahwa warga belum menyukai kita, maka itu artinya tidak lebih sebagai pengingat agar kita harus lebih menyukai, memperhatikan, menghargai warga.

Risang Rimbatmaja / Lapangan Kecil

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 180 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile