Dampingan sebagai penonton atau pemain?

12 Januari 2016 - Posted by admin

Dampingan sebagai penonton atau pemain?

Seorang kawan pendamping bercerita tentang pengalamannya mengelola pertemuan. “Waktu itu saya lihat warga sangat perhatian. Kalau saya menjelaskan, mereka nyimak. Kalau saya ngebanyol, mereka pada ketawa. Tanya jawab juga ramai. Tapi, kok sulit membuat komitmen bersama, ya? Pada lempar-lemparan, ga ada yang mau ngejalanin...”

Mendengar cerita itu, saya lantas bertanya, “Akang memposisikan mereka sebagai penonton atau pelaku?”

“Maksudnya bagaimana?”, dia bertanya balik.

Penjelasan saya sederhana.

“Penonton, ya kerjanya hanya menoton. Menonton Akang manggung. Kalau penyajian Akang bagus, mereka akan memperhatikan. Mereka tertawa kalau Akang lucu. Mereka serius kalau Akang berhasil menggiring mereka untuk serius mendengarkan sesuatu. Tapi, ya sudah begitu saja. Namanya juga penonton. Pertunjukkan kelar, tepuk tangan kalau puas terus bubar. Jangan harap penonton mau kerja. Mungutin sampahnya sendiri saja ogah.”

“Nah, Kang, beda kalau mereka itu pelaku. Gampangnya, misalnya mereka adalah pemain atau aktornya. Sehabis Akang ngomong, pasti terjadi sesuatu. Pasti ada aksi yang terlihat.”

“Ibaratnya, pertemuan itu panggung latihan. Akang cuma ngomong dan berdialog sama pemain, tapi panggung latihan itu sendiri bukan punya Akang. Akang mah cuma dipinggir saja.”

“Apalagi nanti pas panggung benerannya, yang akan dilihat penonton yang  beli karcis, Akang malah ga terlihat sama sekali. Palingan Akang dipanggil maju ke panggung, tapi itu pun kalau penonton suka. Kalau pada kesel, ya jangan coba-coba muncul.”

“Jadi pendamping itu seperti kerja mengelola aktor-aktor ya?” tanya kawan itu.

“Agak mirip, tapi ga mirip bener,” ungkap saya.

“Maksudnya?” tanya kawan.

 “Ya, Akang ga bisa main suruh-suruh begitu. Lagaknya ga boleh seperti bos atuh,” jelas saya.

“Kok ga bisa. Kalau sutradara kan emang harus kasih instruksi,” sanggahnya.

“Iya, kalau aktor beneran. Aktor beneran mah bayarannya juga bagus. Aktor film, penghasilan sekali main film, bisa buat hidup bertahun-tahun, leyeh-leyeh, bejemur di pantai. Emang warga dibayar mahal?” tanya saya.

“Iya, saya kemarin ngajuin uang transport sama bos, ga dikasih. Katanya, mereka warga di desa sendiri, jadi ga pas kalau dikasih transport. Lagian, kata bos, itu kan pertemuan untuk menentukan nasib mereka juga. Ya, jadinya mereka full sukarelawan,” Kata kawan.

“Nah itu dia. Tapi dapat snack, kan?” tanya saya.

“Iya, cuma snack doang. Bos bilang, kalau dua jam, ga boleh ada makan. Hmm, makanya, kudu baik-baik ya. Memberi panggung buat mereka tampil, mengutarakan pendapat dan berdialog. Menghargai mereka dan membuat pertemuan dua jam itu jadi pertemuan yang menyenangkan buat mereka....” ungkap kawan.

Risang Rimbatmaja – Lapangan Kecil

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 107 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile