[Hidup berjejaring itu] memberi atau mati.

11 Januari 2016 - Posted by admin

[Hidup berjejaring itu] memberi atau mati.

Seorang ahli komunikasi pernah menjelaskan pada saya bahwa sumber kekuasaan dari masa ke masa mengalami perubahan.

Di jaman dulu, seperti jaman batu, pemilik kekuasaan adalah yang punya otot paling kuat dan cepat. Kemampuan fisik seseorang menentukan posisinya di masyarakat. Yang paling jago-jago berkelahi menjadi pemimpin-pemimpin di masyarakat.

Lalu ada masa di mana yang paling menentukan itu adalah uang. Tidak mengapa dia berfisik lemah, asalkan dia punya uang, dia bisa berkuasa di masyarakat. Di sini, kekuatan ekonomi yang menentukan.

Setelah itu, ada masa di mana kepintaran juga ikut menentukan kekuasaan seseorang. Orang yang otaknya encer bisa naik ke posisi-posisi tinggi di masyarakat.

Terakhir, kita melihat luasnya jaringan (network) bisa mendongkrak posisi seseorang di masyarakat. Bahkan, pada banyak kasus, orang-orang yang punya posisi tinggi di masyarakat bukanlah orang yang jago berkelahi, punya uang banyak atau pintar. Mereka justru tidak punya ketiga hal itu, namun mereka memiliki jaringan luas yang terus berkembang.

Mereka mudah membangun bisnis ini itu bukan karena modal besar. Tapi karena mereka hidup dalam jaringan yang penuh dengan sumber-sumber yang mendukung.

Kerja pendampingan pada dasarnya mesti mengikuti perubahan-perubahan di masyarakat. Karena itu, pendamping mesti membantu dampingan hidup berjaringan. Memotivasi dampingan agar hidup lebih sehat (fisik), lebih kuat secara ekonomi dan lebih pintar memang merupakan menu wajib pendamping. Tapi jangan lupa, ajak mereka hidup berjejaring. Bantu mereka agar memiliki kawan lebih banyak. Ajak mereka masuk atau dikenal lebih banyak kumpulan, asosiasi atau organisasi.

Agar pendamping bisa mengajak dampingan mengembangan kecakapan berjejaring, tentu saja, pendamping terlebih dahulu mesti cakap berjejaring.

Tidak ada kecakapan khusus yang dibutuhkan, sebetulnya. Tapi yang jelas caranya agak berbeda dengan tiga sumber kekuatan sebelumnya.

Supaya jago berkelahi, kita mungkin kudu berlatih pencak silat atau kuntouw dan makan sehat. Supaya kaya, kita mesti bekerja keras, bisnis, hemat, lihai berinvestasi, lalu menumpuk uang. Supaya pintar, kita kudu rajin belajar, bereksperimen, kreatif-inovatif dan lain-lain.

Kecakapan hidup berjejaring sama sekali tidak menihilkan kecakapan-kecakapan hidup di atas. Kalau dibuat sederhana, tinggal ditambahkan satu hal, yaitu memberi atau berkontribusi pada penguatan/ pengembangan jaringan. Dengan kata lain, berbagi antarsesama kawan dalam jaringan.

Orang yang mengeluh karena asosiasi, kumpulan, atau jaringannya tidak memberi apa-apa padanya, mungkin perlu bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah memberikan sesuatu pada mereka? Apakah dia pernah berbagi kecakapan yang dimiliki? Apakah dia pernah memberikan sumber daya yang dia miliki pada sesamanya?   

Logika tentang mengapa berkontribusi pada jaringan menentukan manfaat yang didapat akan dibahas dalam tulisan lain. Untuk saat ini, rasanya cukup menulis ulang judul artikel ini bahwa hidup berjejaring itu, mengutip judul buku seorang kawan, memberi atau mati.

Risang Rimbatmaja. Lapangan Kecil

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 156 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile