Melibatkan orang tua di sekolah

04 September 2015 - Posted by admin

Melibatkan orang tua di sekolah

Pendidikan anak seharusnya bukan hanya tanggung jawab sekolah. Namun, dalam praktiknya, banyak orang tua menyerahkan semuanya pada guru.

Guru atau sekolah kemudian dijadikan “kambing hitam”. Kalau anak tidak bisa baca, guru dinilai kurang cakap. Kalau anak malas sholat, gurunya disalahkan. Kalau anak di rumah tidak mau belajar dan inginnya main terus, dipikir itu gara-gara gurunya kurang disiplin.

Padahal beban guru di kebanyakan sekolah sudah cukup berat (apalagi bila dibandingkan dengan jumlah honor yang diterima).

Seorang kawan di Tegal sampai kasihan melihat istrinya, guru TK yang tengah hamil muda. “Cape kerjanya. Ngangkat bangku, meja, sampai ngangkat anak-anak juga kerjaan dia. Padahal ibu-ibunya ya ada di situ juga. Cuma ngeliatin aja. Kebanyakan malah datang ke sekolah Cuma buat ngumpul dan ngerumpi,” ujarnya. Saat ini istrinya sedang mempertimbangkan berhenti mengajar dan mengurus janinnya.

Sekolah, termasuk TK atau SD, harus lebih banyak melibatkan orang tua dalam sekolah. Kontribusi orang tua tidak bileh bukan hanya uang.

Melibatkan orang tua tentu tidak bisa ujug-ujug. Komunitas sekolah perlu mendiskusikan gagasan  dengan terbuka. Berikut beberapa ide yang bisa dipertimbangkan.

Pertama, komunitas sekolah, termasuk di sini manajemen sekolah, guru dan orang tua perlu duduk bareng membicarakan ide tentang partisipasi orang tua.

Bagi sebagian sekolah, rapat untuk membicarakan partisipasi orang tua bisa jadi hal yang baru. Biasanya kan orang tua murid datang ke rapat sekolah untuk mendengarkan permintaan sumbangan.

Karena itu, dialog harus disiapkan secara cermat. Saat keran bicara dibuka lebar-lebar, kecenderungannya orang akan bicara banyak dan tidak saling mendengarkan. Karena itu, proses fasilitasi perlu dimulai dengan tahapan yang dapat membantu kecakapan berinteraksi, termasuk di sini pengenalan anggota forum dan pengembangan norma berdialog. Di sini, seorang guru yang terlatih dapat mengambil peran sebagai fasilitator.

Kedua, peran orang tua perlu dibuka lebar-lebar, bahkan sampai ke dalam kelas. Di banyak “sekolah bagus”, kita banyak mendengar orang tua menjadi guru, mengisi sesi belajar di kelas. Konsep ini sebetulnya juga bisa aplikasikan di sekolah-sekolah lainnya. Bahkan, yang diajar sebaiknya tidak sebatas “pengalaman berkarir” atau topik pelajaran tertentu, namun juga yang topik-topik perilaku baik yang kerap menjadi tantangan banyak orang tua, seperti cara membagi waktu, mengurangi main gadget, disiplin, makan sehat, sholat, berhemat dan lain-lain.

Pengalaman di dalam kelas dapat memunculkan kesadaran orang tua betapa sulitnya merubah perilaku. Sehingga, mengandalkan sekolah atau guru saja rasanya jadi kurang tepat.

Ketiga, pengembangan ide-ide lanjutan. Dari interaksi yang konkrit di sekolah (bersama guru, murid dan lingkungan sekolah), orang tua akan memiliki kesadaran yang lebih kritis di sekolah. Mereka akan sadar jika jajanan yang disantap anak-anak ternyata sebagian berbahaya karena mengandung bahan kimia berbahaya. Mereka juga akan melihat kondisi fisik sekolah lalu mengaitkannya dengan keamanan.

Harapannya, mereka menjadi kritis, namun kritis bukan sebagai tukang kritik saja. Lebih dari itu, karena menjadi subjek, kita bisa berharap orang tua pun terlibat dalam aksi bersama dalam komunitas sekolah.

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 120 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile