Sessi Belajar Fasilitasi = Kelas Kepribadian?

03 Juni 2012 - Posted by admin

Sessi Belajar Fasilitasi = Kelas Kepribadian?

Seperti yang sudah-sudah, di hari-hari terakhir sessi belajar bersama fasilitasi, ada saja saja yang berkomentar di luar hal teknis. “Workshop fasilitasi ini ternyata kelas kepribadian ya?” ujar satu partisipan asal Kota Bekasi. “Ego saya sekarang sudah berkurang,” kata satu partisipan muda asal kota Jember yang mengikuti sessi di bulan Juli lalu (tepatnya 19 – 23 Juli 2011), di Lembang bersama BBPPK Kemenakertrans.

 

Komentar semacam itu mengingatkan kami atas pengalaman-pengalaman sebelumnya, khususnya pada sessi belajar yang diselenggarakan lebih dari 3 hari. Seperti di Padang Panjang, waktu itu atas undangan OXFAM (Maret 2010), terkenang seorang aktivis perempuan sekaligus aktivis parpol dengan sedikit terisak merasa menemukan cara yang lebih baik untuk membangun partisipasi tim-nya ketimbang bersikap emosional dan meledak-ledak (yang sebelumnya dia lakukan). Di sessi belajar di Kota Makassar (Nopember 2010) bersama Kemenkes/ STBM, kami mendapati seorang pejabat daerah yang merasa tersadar bahwa selama ini kurang mendengarkan bawahannya dan malah memaksakan kehendak pada bawahannya.

 

Apakah belajar fasilitasi menghasilkan perubahan kepribadian atau pembentukan karakter?

 

Sebetulnya, Lapangan Kecil tidak secara khusus mendesain sessi belajar fasilitasi sebagai kelas kepribadian apalagi pembangunan karakter. Hanya saja, dalam memfasilitasi proses belajar, ada sejumlah prinsip yang dipraktikkan bersama, yang mungkin menyentuh pandangan mendasar atau ideologi partisipan.

 

Lapangan Kecil mengandalkan teknik/ seni yang bersumber dari prinsip resiprokal dalam komunikasi sosial. Seperti: kalau mau didengarkan orang, dengarkanlah orang dengan baik. Jika diperhatikan, berilah perhatian pada orang. Bila Anda ingin orang terbuka pada Anda, maka bukalah diri Anda terlebih dahulu.

 

Lapangan Kecil juga berperan minimum dan meminta partisipan belajar lebih banyak dari sesamanya. Dalam proses berkelompok mereka bergantian menjadi pembicara kemudian pendengar, pemimpin lalu menjadi anak buah, fasilitator dan kemudian partisipan. Pada satu waktu mereka mempraktikkan dan merasakan sikap empati, rendah hati, dan penuh kolaborasi. Pada waktu lain, mereka mempraktik dan merasakan sikap sebaliknya, yang sombong, tidak perhatian dan  sikap pengganggu lainnya. Mungkin saja proses ini membantu partisipan menemukan karakter “mahluk sosial” yang lebih pas.

 

Peran minimalis Lapangan Kecil tampak sejak awal sessi. Seperti biasa, di awal, kami tidak pernah bercerita tentang pengalaman-pengalaman, apalagi yang muluk-muluk. Sebaliknya, melalui sejumlah permainan dan pengenalan sejumah teknik, kami mendorong agar partisipan mengenalkan diri dan saling berkenalan. Bila kemudian, sebagian partisipan memilih untuk menonjolkan diri atau bersombong ria, itu reaksi yang kami nilai positif, karena dengan begitu, kami mendapatkan sejumlah narasumber.

 

Bagian ceramah pun kami buat singkat. Bila tidak dirasa perlu, kami mencoba berceramah tidak lebih dari 3 menit per segmen. Kami lebih mengandalkan praktik kelompok agar partisipan menemukan pengalamannya masing-masing. Lapangan Kecil sangat menghargai penemuan individual atas proses kelompok, baik di materi permainan, seni atau metodologi fasilitasi. Semisal, kami tidak pernah “memaksakan” makna setiap permainan dan seperti halnya para constructivist, kami membiarkan setiap partisipan mendapatkan maknanya masing-masing. 

 

Pemandangan yang wajar ditemukan di setiap workshop Lapangan Kecil adalah dalam 2-3 jam pertama sebagian partisipan mengobrol. Namun setelah itu, jarang kami temui mereka mengobrol, karena, akhirnya disadari juga bahwa sepanjang sessi belajar bersama, sebetulnya yang dipelajari dan dipraktikkan adalah teknik dan seni mengobrol/ percakapan. Namun, ini tentu saja, teknik dan seni mengobrol/ percakapan yang empatik, partisipatif yang kemudian dapat menghasilkan komitmen atau bahkan kolaborasi kelompok yang positif.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 196 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile