Gerakan ini itu dan kepemimpinannya

21 Agustus 2015 - Posted by admin

Gerakan ini itu dan kepemimpinannya

Program pembangunan sosial banyak mengambil bentuk gerakan. Setidaknya, sebagai label. Gerakan makan ikan. Gerakan sayang ibu. Gerakan orang tua asuh. Ada juga gerakan cuci tangan pakai sabun, gerakan menanam pohon, menabung, dan beraneka ragam gerakan lainnya.

Melalui beragam gerakan itu para pemimpin tampaknya berharap masyarakat beramai-ramai dan secara mandiri bahu membahu melakukan apa yang dipesankan.

Namun, fakta acapkali berbicara lain. Setelah heboh di awal, tidak sedikit yang kemudian redup lalu tertidur seiring dengan tutup buku keuangan.

Sepertinya, para pemimpin lupa posisi mereka di masyarakat dan kurang mencermati situasi masyarakat yang telah berubah dari waktu ke waktu.

Banyak pemimpin pemerintahan atau birokrasi yang maju dan tampil memimpin gerakan ini itu.  Seolah mereka adalah, meminjam istilah Weber, pemimpin kharismatik. Seorang pemimpin yang sumber otoritasnya adalah karisma. Pemimpin kharismatik memimpin gerakan sosial baru dengan visi dan misi yang menginspirasi orang-orang. Menurut Weber, bagi pendukungnya, pemimpin kharismatik memilik kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Para nabi termasuk yang dikategorikan sebagai pemimpin dengan otoritas karismatik.

Pimpinan pemerintahan, seperti walikota, bupati, menteri, dirjen ataupun presiden sekalipun rasanya tidak punya cukup karisma yang dapat menjadi landasan otoritas bagi gerakan yang mereka prakarsai. Sulit membayangkan bila setelah seorang pemimpin mencanangkan gerakan naik angkutan umum, maka kemudian warga berbondong-bondong menanggalkan kendaran pribadi dan beralih ke angkutan umum.

Karena itu, pemimpin pemerintahan atau birokrasi sebaiknya tidak berpikir atau beraksi seperti pemimpin kharismatik. Mereka tidak perlu tampil dengan seremonial megah di depan masyarakat, seolah mereka adalah pemimpin gerakan yang kharismatik.

Otoritas yang dimiliki para pemimpin pemerinah atau birokrasi adalah apa yang disebut Weber, sebagai legal rasional. Sifatnya impersonal sehingga yang penting bukan faktor pemimpin secara individu tapi bagaimana membangun sistem legal yang dipatuhi.

Aplikasinya pun harus total, tidak pandang bulu. Sebagai contoh, sulit membangun gerakan patuh lalu lintas bila aturan lalu lintas hanya berlaku pada satu kelompok dan tidak berlaku pada kelompok lain.

Kesulitannya adalah kepemimpinan legal rasional sulit diterapkan pada tema-tema gerakan pembangunan sosial yang lingkupnya individual atau keluarga, seperti cuci tangan pakai sabun, menabung, KB dll. Memang, kami pernah melihat ada sejumlah desa di NTT, yang dengan dorongan LSM internasional, bereksperimen menerapkan perdes (peraturan desa) tentang persalinan, ASI Eksklusif, kunjungan posyandu, dan berbagai perilaku sehat lainnya.

Kalau tidak melahirkan di sarana kesehatan, denda 400 ribu. Kalau tidak berkunjung ke posyandu, denda 10 ribu. Kalau tidak beri ASI Eksklusif, denda sekian puluh ribu.

Tapi apakah itu gerakan yang dapat diterima masyarakat?

Perdebatannya panjang dan tulisan ini tidak bisa membahas itu.

Singkatnya, gerakan membutuhkan kepemimpinan.

Dengan keterbatasan otoritas dari pemerintah dan birokrasi, pilihan lain adalah menyerahkan kepemimpinan pada masyarakat. Di sini, kuasa diberikan pada masyarakat sehingga mereka dapat membicarakan, menentukan, mengembangkan, dan menjalankan gerakannya sendiri.

Tidak akan mudah, memang. Apalagi, sudah cukup lama masyarakat tidak memimpin gerakan bagi dirinya sendiri. Sebagai langkah awal, para pemimpin formal dapat memulai dengan berhenti beraksi menjadi pemimpin. Apalagi bergaya seperti pemimpin karismatik. RR 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 102 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile