Intervensi kelompok minimalis vs. maksimalis

20 Agustus 2015 - Posted by admin

Intervensi kelompok minimalis vs. maksimalis

Intervensi pada kelompok banyak dilakukan untuk pelbagai isu, seperti kesehatan, gizi, pendidikan, ekonomi, pertanian, dll. Ibu-ibu hamil dikumpulkan dalam kelas untuk diceramahi ini itu. Petani-petani dikumpulkan untuk dikenalkan teknologi baru dan lain sebagainya.

Namun, kadang kala intervensi kelompok dilakukan secara minimalis.

Mengumpulkan warga, sekali atau reguler (semisal sebulan sekali), dan kemudian menceramahi atau menasehati mereka adalah contoh intervensi kelompok minimalis. Disebut minimalis karena potensi kelompok tidak dimanfaatkan secara optimum.

Intervensi minimalis cenderung melihat kelompok sebagai inividu-individu yang sekedar berkumpul. Yang disasar adalah peningkatan pengetahuan anggota.  Tapi aspek kelompok lainnya dilupakan, seperti norma kelompok, berbagi sumber daya, gotong royong, silahturahmi, leadership dll.

Bila efektif, ceramah atau penyuluhan (atau akhir-akhir ini seriing disebut sosialisasi – istilah yang secara akademis memiliki makna yang berbeda) akan meningkatkan pengetahuan anggota kelompok.

Bila efektif, kita juga bisa berharap terjadinya perubahan sikap dan perilaku. Tapi, jumlah yang berubah sikap atau perilakunya tidak boleh banyak diharapkan. Apalagi bila anggota kelompok datang bukan karena motivasi sendiri (semisal, karena undangan yang tidak bisa dihindari).

Jika terjadi peningkatan pengetahuan pada 70% anggota kelompok, maka jangan-jangan % yang berubah sikap atau perilaku tidak lebih dari 10%.

Intervensi minimalis bersifat sesaat atau selintang waktu. Intervensi hanya terjadi pada saat ceramah atau penyuluhan berlangsung. Setelah sesi bubar, orang-orang pulang ke rumah dan isi ceramah atau penyuluhan belum tentu ditindaklanjuti.

Sebaliknya, intervensi kelompok maksimalis memanfaatkan potensi-potensi yang ada di kelompok.

Sekedar ilustrasi, intervensi kelompok minimalis di bidang gizi akan meningkatkan pengetahuan individu-individu dalam kelompok tentang gizi seimbang. Intervensi maksimalis memungkinkan anggota kelompok saling mengingatkan agar selalu mengonsumsi sayur mayur tiap hari selain sumber protein (kacang-kacangan, telur dll) dan sumber karbohidrat (nasi dll).

Praktik saling mengingatkan bisa terjadi saat ibu-ibu kelompok berkumpul di tukang sayur pada pagi hari. Atau, untuk ibu-ibu yang memiliki smartphone, saling mengingatkan bisa terjadi via media sosial atau komunikasi kelompok via smartphone.

Intervensi minimalis mencakup banyak kelompok (orang) dan dari kacamata efisiensi (jangka pendek), intervensi minimalis mungkin lebih membanggakan. “Wah, program ini dalam 6 bulan berhasil mengintervensi 1000 kelompok atau 20.000 ibu hamil”

Tapi perlu diingat, intervensi 20.000 ibu hamil itu bersifat selintang waktu (sesaat saja) dan lebih banyak meningkatkan pengetahuan.

Di lain pihak, intervensi maksimalis membutuhkan waktu lebih lama. Sekedar perbandingan, kalau intervensi minimalis berlangsung 2 jam, maka intervensi maksimalis setidaknya membutuhkan 4 jam ditambah pendampingan 2 x 2 jam (pengalaman Lapangan Kecil).

Jadi, mau pilih yang mana, intervensi minimalis atau maksimalis? Yang jelas, kalau kita melakukan ceramah atau penyuluhan kita tidak bisa berharap banyak selain peningkatan pengetahuan. Dan banyak studi membuktikan bahwa peningkatan pengetahuan tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku.

Risang Rimbatmaja

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 169 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile