Pengalaman mengamati guru mengajar

17 Agustus 2015 - Posted by admin

Pengalaman mengamati guru mengajar

Beberapa waktu lalu fasilitator Lapangan Kecil berkesempatan melakukan survei sekolah SD di daerah pedesaan yang agak terpencil di provinsi Jambi. Sambil berenang minum air, meski di luar topik survei, kesempatan ini digunakan untuk mengamati bagaimana guru-guru SD mengajar, khususnya gaya fasilitasi atau komunikasinya. Untuk memperkaya, kami juga menggali hasil pengamatan beberapa kawan yang menjadi observer di kelas.

Sambil melakukan survei dengan panduan yang tersedia, kami mencoba memperhatikan 3 aspek lain, 1) penggunaan nama murid dalam interaksi di kelas, 2) komunikasi nonverbal, dan 3) gaya bahasa (institutional versus theatre of mind).

Agak mengejutkan, di dalam kelas guru jarang berinteraksi dengan menyebut nama murid. Situasi komunikasinya cenderung formal. Paling sering guru merujuk muridnya sebagai sekumpulan orang dengan menggunakan kata ganti: anak-anak, kalian, kalian semua. Saat merujuk secara individual, yang  banyak digunakan adalah kamu.

Pada saat menyuruh murid maju ke depan kelas (untuk membacakan hasil PR atau bagian dari buku), barulah guru menyebut nama murid.

“Iksan, kamu ke depan, baca yang keras!

Selama satu jam pelajaran, jumlah murid yang maju (karena disebut namanya) bervariasi. Ada kelas yang “memajukan” 4 murid, ada juga yang hanya 2. Bahkan ada yang tidak sama sekali.

Dari aspek komunikasi nonverbal, teramati komunikasi dengan mata banyak terjadi di awal sesi, saat pembukaan kelas. Guru menatap murid dan sebagian murid membalas memperhatikan guru.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Kebanyakan guru kemudian terlihat terlalu konsentrasi dengan materi pelajaran. Menerangkan materi namun matanya tidak berkomunikasi dengan murid. Terlihat saat sedikit murid yang menyelaraskan komunikasi nonverbal dengan gurunya (mengangguk-angguk tanda mengerti, membuka mulut waktu takjub, senyum saat senang atau puas dll.).

Lebih sering guru melihat di atas kepala murid, ke bawah lantai, ke papan tulis, ke meja dan yang agak mencolok atau yang lebih umum: melihat murid sekelebat saja, sebelum komunikasi nonverbal terbangun.

Dari aspek gaya bahasa, gaya bahasanya cenderung institutional. Pilihan kalimat dan katanya cenderung formal seperti gaya bahasa di buku-buku teks. Gaya bahasa yang teaterikal atau deskriptif tidak banyak ditemui. Bahkan, untuk kata-kata yang abstrak sekalipun.

Sekedar contoh, seorang Ibu Guru yang mengajar kewarganegaraan menerangkan:

“Jadi, anak-anak, sebagai warga negara Indonesia kita harus penuh tole...?”

“ransiiiiiii!,” anak-anak melengkapi.

Toleransi hanya disebut sekilas dan tidak dideskripsikan dengan cerita yang bisa dibayangkan murid-murid.

Apakah kesimpulannya guru-guru yang kami amati tidak memiliki kecakapan komunikasi yang memadai?

Tidak juga. Saat mengamati interaksi di luar kelas, kami lihat komunikasi nonverbal antara guru dan murid berlangsung menarik (saling melihat mata, mengangguk, menggerakkan tangan dll). Saat berhasil mendekat dan curi-curi dengar, guru juga menyebut-nyebut nama murid.

Juga, dari narasi, terdengar gaya yang ber-theatre of mind, “Asni, sepatu jangan ditaruh di situ. Nanti ditendang-tendang anak laki. Nanti kamu susah cari-cari, duh di mana yaa di mana ya sepatu saya. Ayo, pakai saja.”

Fakta di dalam dan di luar kelas yang  berbeda ini memunculkan 3 dugaan.

Pertama, formalitas kelas (struktur) menempatkan guru dan murid dalam peran-peran yang berbeda kuasanya. Akibatnya, komunikasi berlangsung sesuai peran-peran yang diharapkan, kurang personal (tidak memanggil dengan menggunakan nama), komunikasi nonverbal datar atau tidak diperlukan dan penggunaan bahasa institutional. Sementara, di luar kelas, guru tidak terbelenggu dalam “struktur kelas” sehingga gaya komunikasinya mejadi gaya komunikasi sehari-hari yang lebih “manusiawi”;

Kedua, jangan-jangan kehadiran observer di kelas menghasilkan bias dari sisi yang diamati. Jangan-jangan yang diamati kemudian berusaha untuk mengajar sebaik mungkin (dan ini diterjemahkan dengan praktik yang cenderung impersonal-tidak sebut nama dalam interaksi, resmi-fokus pada komunikasi verbal dan dengan bahasa institutional-akademis).

Ketiga, kecakapan komunikasi kelompok (group communication) yang belum mumpuni. Mengelola komunikasi kelompok berbeda dengan komunikasi antarpribadi atau yang sifatnya one to one atau one to many tapi tidak dalam situasi kelompok (kelas).

Untuk memastikan mana dugaan yang lebih tepat, mungkin diperlukan riset khusus. Tapi, sementara ini, rasanya 3 dugaan itu bisa dijadikan petunjuk awal.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 185 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile