Mendengarkan tidak selalu diam

17 Agustus 2015 - Posted by admin

Mendengarkan tidak selalu diam

Saat melakukan training need assessment Komunitas Lapangan Kecil di Karesidenan Kedu menjumpai nyanyian atau aba-aba bagi anak-anak PAUD yang membuat kening berkerinyit.

Sejumlah guru PAUD bercerita bahwa dalam prolog mereka biasa mengajak anak-anak mengikuti bait seperti berikut:

“...tangan dilipat, mulut dikunci, kuncinya dibuang...buuur”

Sering juga dalam rangka menyiapkan proses belajar dinyanyikan bait berikut.

Sijo loro telu
Astane sedekuuu

Mirengake bu guru
Menowo didangu

1, 2, 3
Tangan ditekuk (taruh di atas meja)
Dengarkan bu guru, siapa tahu nanti ditanya

Tampaknya paradigma belajar itu diam bukan hanya berlaku di tingkatan SD atau tingkatan lainnya, namun juga di sebagian PAUD.

Bagi sebagian guru, diam itu berarti mendengarkan, memperhatikan, keseriusan, dan juga sopan santun.

Di satu waktu, seorang peserta workshop Lapangan Kecil melontarkan protes. Katanya, “Yang namanya mendengarkan itu diam. Mana mungkin bisa mendengarkan, kalau tidak diam?”

Merespon pernyataan seperti itu, kami balik bertanya, “Bagaimana bapak tahu anak itu mendengarkan kalau si anak hanya diam?”

“Ya, nanti kan bisa tanya,”  jawabnya.

“Kalau tidak bisa menjawab, berarti....tidak mendengarkan?” tanya kami selanjutnya.

Tidak bisa menjawab pertanyaan mungkin bisa berarti anak tidak mendengarkan. Tapi, bisa juga lainnya.

Bisa jadi, anak tidak memahami, tidak bisa mencerna kata-kata guru, sedang khawatir, takut atau lainnya.

Kerangka kerja fasilitasi menawarkan penjelasan yang agak berbeda: bisa jadi anak tidak terlibat dalam proses pembelajaran.

Saat guru menyuruh anak-anak untuk diam sebetulnya dia sedang membangun tembok penghalang partisipasi. Karena, saat itu anak-anak didudukkan sebagai objek.

Objek itu sifatnya pasif. Dan orang pasif tidak bisa belajar karena belajar itu kegiatan aktif.

Belajar itu berpikir, mencari tahu, menggali, meniru, berusaha untuk memahami, menganalisis, mengait-ngaitkan, merenung, berimajinasi, bergerak, dll. Agak janggal bila proses belajar itu diam tidak melakukan apa-apa.

Anak-anak sebaiknya ditempatkan sebagai sebagai subjek yang belajar aktif. Sambil mendengarkan mereka bisa melakukan beragam hal seperti menyela untuk bertanya, berekspresi dengan mengucapkan atau bahkan meneriakkan kata-kata (Wah! wow! Ooohhhh, dan lainnya).

Sambil mendengarkan anak juga bisa membuat gerakan-gerakan yang selaras pesan. Semisal saat guru bercerita tentang cuci tangan pakai sabun, anak-anak boleh saja spontan berdiri dan pura-pura bercuci tangan. Berlompat-lompatan dengan gembira atau melakukan gerakan lain.

Asalkan mendengarkan, apapun boleh mereka lakukan. Untuk tahu mereka mendengarkan atau tidak, tidak perlu menyuruh mereka diam bersedekap. Amati saja bahasa nonverbal mereka.  Ketahuan kok.

 

www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 177 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile