Menikmati kehadiran anak-anak dalam pertemuan

05 Agustus 2015 - Posted by admin

Menikmati  kehadiran anak-anak dalam pertemuan

Lazim bagi fasilitator mendapati partisipan yang membawa serta anaknya yang masih kecil. Bahkan, jikapun di surat undangan dibubuhi keterangan sebaiknya tidak membawa anak, pada praktiknya banyak ibu datang ke tempat pertemuan menggendong atau menggandeng anaknya.

Kehadiran anak-anak di dalam pertemuan kadang dipandang sebagai “gangguan”, akibat kegaduhan atau gerak yang dibuat mereka.

Tak jarang, fasilitator merasa terganggu. Konsentrasi ibu-ibu terganggu. Fasilitatir sudah meningkatkan volume suara tapi tidak terdengar jelas. Pendengaran pun terhalang. Tak jarang, emosi fasilitator terganggu. Bila pertemuan berlangsung kurang lancar, kehadiran anak-anak dijadikan kambing hitam.

Untuk mengantisipasi “gangguan” anak-anak, kawan-kawan fasilitator biasanya mempersiapkan pelbagai taktik. Menyediakan pojok anak, menyiapkan alat-alat permainan atau mendedikasikan seorang fasilitator untuk mengajak anak bermain adalah contoh-contoh yang umum dilakukan.

Bisakah itu menghilangkan “gangguan” anak-anak?   

Belajar dari pengalaman, kami sering mendapati upaya-upaya itu memang bisa mengurangi “gangguan”, tapi tidak bisa menghilangkan. Sehingga, dari pada terpaku pada upaya mengantisipasi kehadiran anak-anak, menjadi penting untuk meningkatkan kecakapan memfasilitasi dalam situasi kehadiran anak-anak.

Bila dikuasai dengan baik, berbagai keterampilan mengelola interaksi perserta (kelompok/sub kelompok), memori-memori kelompok, mendengarkan fasilitatif, dan permainan dapat membantu kerja fasilitator mengelola forum yang banyak dihadiri anak-anak.

Namun, lebih dari sekedar keterampilan, yang juga amat menentukan adalah kecakapan menikmati kegaduhan akibat “gangguan” anak-anak. Dan ini terkait dengan bagaimana fasilitator memberikan makna pada kehadiran anak-anak.

Kita bisa memandang kehadiran anak-anak sebagai gangguan. Kita juga bisa memandangnya sebagai hak anak (untuk bersama ibunya). Tapi, kita juga bisa memandangnya sebagai peluang membangun hubungan yang  baik dengan si ibu.

Pengalaman belajar bersama koas/ dokter muda, yang awalnya kesulitan membangun  hubungan dengan warga, menunjukkan hubungan dengan warga bisa terbangun cepat dengan menunjukkan komunikasi yang penuh penghargaan pada anak-anaknya, seperti mengajak anak-anak bermain, bercakap-cakap, mendengarkan dengan baik dan lain-lain.

Maka itu, saat anak-anak ada di forum, bersyukurlah, karena terbuka banyak peluang membangun hubungan dengan ibu yang lebih baik.

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 102 + 6 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile