Latih Anak Cakap Berkomunikasi, Cegah Bullying

15 April 2015 - Posted by admin

Latih Anak Cakap Berkomunikasi, Cegah Bullying

Sebagian besar bullying adalah perilaku komunikasi antaranak. Atau paling tidak, dimulai dari komunikasi. Awalnya anak diejek kawan atau seniornya, diberi label yang tidak menyenangkan, dan setelah berulang-ulang, kemudian muncul bullying fisik.

Di internet, banyak artikel berisi tips komunikasi agar anak terhindar dari bullying, semisal berkomunikasi asertif (banyak yang menyederhanakan menjadi: berani berkata tidak), percaya diri, lapor kepada guru bila di-bully, berteman dengan banyak teman di kelas, dll.

Banyak yang keliru mengaplikasikan tips itu untuk anak yang tengah menjadi korban bullying. Padahal komunikasi bukanlah intervensi yang instan (dalam teori komunikasi perubahan perilaku, komunikasi itu adalah intervensi yang  bisa ditujukan untuk isu perilaku yang penting, namun less-urgent alias tidak terburu-buru).

Kecakapan berkomunikasi tidak bisa dilatih dalam semalam. Butuh waktu bagi anak dan orang tua untuk sama-sama mengasah kecakapan komunikasinya.

Salah-salah, itu justru membuat anak semakin menjadi terbebani (Bayangkan ketika anak tengah ketakutan di-bully seniornya, lalu orang tuanya justru mendorongnya agar berani. “Jangan takut, kami harus berani! Bilang, kamu jangan ganggu saya!”)

Hemat kami, saat anak tengah menjadi korban, tindakan perlindungan yang nyata yang dibutuhkan anak.

Untuk jangka waktu yang lebih panjang, berikut beberapa tips berlatih komunikasi bagi anak dan orang tua yang dapat mengasah kecakapan komunikasi anak.

Komunikasi non-verbal, seperti tatapan mata, raut wajah, suara, gerak tangan dan lainnya memancarkan pesan tertentu. Anak yang rentan di-bully biasanya memancarkan pesan minder, kecemasan, atau mudah ditundukkan. Untuk poin ini, saya teringat pengalaman saya sendiri yang dulu kerap dipalak preman. Kawan saya, yang katanya mantan anak jalanan, mengatakan bahwa pemalak biasanya tidak sembarang pilih korbannya, mereka memilih target yang terlihat  “mudah”. Dan itu dapat dilihat dari mata, raut wajah, dan gerak-geriknya. Saya lalu dinasehati agar lebih sering memasang “wajah garang”.

Saya tidak mau memasang “wajah garang”, meski demikian, saya serius mencerna masukannya tentang aspek komunikasi non-verbal yang menjadi target “mudah” bagi preman. Saya kemudian banyak berlatih memasang wajah yang terlihat lebih “menikmati suasana” saat jalan sendirian. Tidak tegang. Tapi menikmati suasana seolah-olah sudah sering berada di daerah itu. Hasilnya, alhamdulillah, ada kok.

Nah, orang tua dan anak juga bisa berlatih bersama-sama agar menghasilkan komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan keyakinan atau kepercayaan diri yang kuat.

Orang tua bisa mulai terlebih dahulu. Biasakan memancarkan komunikasi verbal yang kuat saat bercakap-cakap dengan anak. Saat bertanya, menyuruh, atau berkomentar, biasakan tatap mata anak dengan meyakinkan. Suara,  mimik wajah, tangan dll pun demikian. Sebagai akibat, anak pun akan belajar dan membalas dengan komunikasi verbal yang meyakinkan pula.

Bila anak belum menunjukkan komunikasi non-verbal yang menunjukkan keyakinan diri, orang tua bisa mencontohkan dan meminta (secara tidak langsung). “Gimana, kakak? Setuju ga nih?!?” (dengan suara hidup, mata berbinar, wajah memberi semangat, tangan mengepal). Kalau anak menjawab datar, orang tua bisa meminta langsung. “Kalau setuju, suara dan wajahnya kudu setuju dong! Mana itu, setuju ga?”

Sebaliknya, bila orang tua biasa bicara tanpa melihat anak (malah melihat TV atau mengerjakan hal lain) atau dengan suara datar, males, atau sebaliknya keras tapi kasar, maka anak tidak terlatih memiliki komunikasi nonverbal yang meyakinkan. Wajahnya datar, matanya tidak terlatih menatap mata orang. Suaranya pun akan malas-malasan atau malah ketakutan.

(Bersambung)

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 140 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile