Komunikasi yang paling menyakitkan

27 Maret 2015 - Posted by admin

Komunikasi yang paling menyakitkan

Dalam hal komunikasi, teman kerja seperti apa yang tidak disukai? Pertanyaan ini dimunculkan dalam satu sesi workshop di sebuah kantor.

Jawaban di posisi teratas adalah teman yang membicarakan keburukan rekan kerjanya kepada rekan lain.

Jadi, yang tidak disukai bukan mereka yang menyampaikan kritik secara pedas di depan orangnya langsung atau di depan umum. Yang paling tidak disukai adalah yang membicarakan keburukan atau kelemahan rekan kerja di belakang punggungnya.

“Awalnya cerita pada satu orang, lalu orang itu bercerita pada orang lain. Akhirnya sampai juga ke saya”, ujar satu partisipan.

Saat mengetahui dirinya dibicarakan secara buruk, partisipan yang pernah mengalami mengatakan sakitnya luar biasa.

Reaksi yang orang yang “disakiti” tidak selalu menunjukkan “sakit hatinya”. Banyak dari mereka tidak frontal meminta klarifikasi atau mengajak berkonflik. “Saya diamen aja. Males ribut dengan orang seperti itu.”

Kebanyakan diam dan malah masih tetap menjaga komunikasi. Namun, dari sisi komunikasi, dampak sakitnya sebetulnya luar biasa.

Trust atau kepercayaan terhadap orang yang membicarakannya luntur. Dan itu sulit dipulihkan, karena menjadi konflik terpendam.

Dia mungkin tetap berkomunikasi, tapi berkomunikasi tanpa hati. Kalau tidak terpaksa karena urusan tugas, dia tidak akan mendengarkan, apalagi memberi pertolongan. 

Tanpa trust komunikasi menjadi superfisial. Konflik, jegal menjegal, tinggal menunggu waktu.

Akibatnya, tim menjadi kurang produktif.

Untuk membangun interaksi antar-rekan kerja yang nyaman, praktik membicarakan kelemahan orang di belakang punggungnya mesti dihindari. Caranya mudah saja, yaitu jangan tergoda membicarakan kelemahan orang lain. Bila kelemahan itu menganggu kerja tim, sampaikan saja pada orang yang bersangkutan atau bila tersedia, gunakan saluran resmi, seperti di dalam forum. Di sana sampaikanlah secara non-judgemental atau asertif. Kalau tidak berani, diam mungkin lebih baik.

 

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tenang komunikasi asertif, lihat : http://www.lapangankecil.org/refleksi_dan_riset53_berani_bicara_yang_aggressive_atau_assertive.html

 

Komentar

anis nugrahanto, 28 Maret 2015 05:53:35
orang extrovet jarang begitu rasanya,.
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 180 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile