Waktu Berkomunikasi Apresiatif

27 Maret 2015 - Posted by admin

Waktu Berkomunikasi Apresiatif

Dalam komunikasi apresiatif, pilihan waktu menjadi hal yang kritikal. Kadang kita terjebak memberi apresiasi pada saat-saat ekstrim, yang acapkali kurang berdampak maksimal.

Semisal, karena menghadapi murid yang tidak naik kelas, patah semangat atau frustasi, guru kemudian menyemangati dengan menunjukkan kelebihannya, “Nak, kamu itu pintar kok. Ibu perhatikan itu. Mendengarkan sekali saja sudah hapal. Kamu tinggal mencatat saja yang rapih...jangan seperti sekarang, kamu tidak punya catatan. Lalu baca beberapa kali, pasti kamu sudah bisa!”

Atau saat anak tampil bagus dalam pementasan drama, orang tua memberi apresiasi, “Hebat kamu nak, suara kamu jelas terdengar sampai belakang. Waktu kamu membacakan puisi itu, papa lihat sebelah papa sampai menetaskan air mata!”

Berkomunikasi apresiatif di saat ekstrim, seperti digambarkan pada kedua penggalan di atas, tentu boleh-boleh saja. Dan berpeluang juga memunculkan motivasi baru pada anak/ murid. Namun, akan lebih baik bila berkomunikasi apresiatif dijadikan perilaku berkomunikasi kita dalam konteks sehari-hari yang natural. Dengan demikian, semakin hari semakin kuat semangat anak/ murid untuk meraih apa yang dicita-citakannya.

Semisal, tidak ada salahnya bagi seorang guru untuk mengapresiasi murid-muridnya saat mereka melangkah keluar dari kelas untuk pulang, sambil bersalaman, tos high five atau sekedar melintas, guru bisa menyampaikan:  “Terimakasih buat ide bagus tadi Toro ya! Luar biasa kamu!”, “Saya suka suara Tia tadi. Asah terus, kamu bakal jadi bintang!”, “Hebat, kamu Yan, PR betul semua!”

Di kelas, saat murid memberikan pendapat, guru bisa mengapresiasi saat melakukan paraphrasing. “Jadi, Adi bilang manusia itu mahluk sosial karena saat berkomunikasi dengan orang lain, dia sebetulnya melihat diri sendiri. Wah, ini dia, saya suka pendapat orisinil. Ga ada di buku nih. Mantabs!”

Berkomunikasi  apresiatif dalam situasi ekstrim, khususnya dalam situasi negatif (seperti kasus murid yang tidak naik kelas, patah semangat atau frustasi di atas), acapkali tidak efektif, karena murid/ anak bisa saja memaknainya secara berbeda (semisal menganggap guru/ orang tuanya sekedar memberi semangat alias berbasa-basi).

Untuk situasi positif (saat berprestasti), apresiasi guru/ orang tua mungkin berdampak positif secara sosial (peningkatan kepercayaan, kualitas hubungan dll).

Namun, dalam rangka mencapai prestasi tinggi itu, komunikasi apresiatif justru diperlukan selama proses atau setting natural/sehari-hari.  Anak/ murid perlu disemangati setiap hari, bukan dengan diberi perintah ini itu terus menerus, tapi diperlihatlan/ diingatkan akan kelebihannya dan apa yang telah dan bisa lebih dicapai dengan kelebihannya itu.

Risang Rimbatmaja

www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 104 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile