Satu Percakapan, Percakapan Indonesia

10 Februari 2015 - Posted by admin

Satu Percakapan, Percakapan Indonesia

Bagi seorang fasilitator, jangan-jangan, ada satu yang ketinggalan dari Sumpah Pemuda. Bukan hanya satu  toempah darah, bangsa, dan bahasa, tapi juga satu percakapan, percakapan Indonesia.

Sumpah pemuda diharapkan menjadi pemersatu bangsa ini. Faktanya, kita telah berada di satu negeri , tapi kerap ribut, bertengkar  dan bernafsu mencari-cari kesalahan orang lain, yang notebene satu toempah darah dan bangsa.

Kita semua  mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia, namun banyak juga di antara kita yang menggunakan bahasa itu untuk saling menyerang, menghujat, dari pada untuk berusaha untuk saling memahami, bersepakat dan bekerjasama.

Lantas apa itu satu percakapan (one conversation), percakapan Indonesia? Bagaimana gagasan tentang satu percakapan bisa ikut membangun persatuan?

1)  Dalam seni fasilitasi, gagasan satu percakapan mengacu pada satu percakapan dalam satu waktu. Maksudnya, kalau satu orang sedang bicara, maka yang lain mesti diam dan mendengarkan. Untuk melengkapinya, khususnya dalam konteks Indonesia, kita bisa menambahkan menjadi:

2)  Take turns alias gantian atau gentenan (Jawa). Satu orang tidak boleh mendominasi percakapan   sementara yang lainnya diam mendengarkan. Orang yang bicara mesti kira-kira juga (berhitung), berapa lama waktu yang tersedia dan berapa orang yang hadir. Kalau waktu berdialog tersedia 2 jam dan ada 20 orang yang hadir, maka tak patut seorang bicara lebih dari 10 menit (total).

     Prinsip gantian ini menunjukkan seserorang itu tidak egois mendjoendjoeng  percakapannya sendiri dan siap membangun satu percakapan, percakapan Indonesia.  Untuk mengevaluasi diri apakah Anda termasuk orang yang menerpakannya, perhatikan saja bagaimana Anda bicara saat berdua dengan kawan atau kenalan. Apakah Anda lebih sering berbicara, sementara kawan Anda mendengarkan? Atau sebaliknya? Atau cukup berimbangkah?

     3) Menggunakan bahasa nonjudgemental atau bahasa yang lebih deskriptif. Dengan maraknya penggunaanmedia sosial, orang mudah menggunakan bahasa judgemental daripada bahasa deskriptif. Padahal, kita semua tahu, konflik banyak dipicu atau dimediasi oleh bahasa judgmental. Satu peserta workshop seni dan teknik fasilitasi di Surabaya pernah bercerita bahwa dia bertengkar dengan tetangganya setelah melaporkan bahwa anak tetangganya itu merusak genteng rumahnya. Dia menyadari kata merusak itu jugdemental, mestinya dia ceritakan saja secara deskriptif bahwa anak tetangganya memanjat pohon mangganya dan saat ingin menggapai satu buah mangga, si anak terpeleset dan jatuh mengenai genteng rumahnya dan akibatnya 5 gentengnya rusak. Alih-alih mendapat ganti rugi, saat itu dia malah bertengkar, nyaris fisik, dengan tetangganya.

Satu kawan lain dari Ambon memiliki cerita yang jelas bersumber dari penggunaan bahasa judgemental. Pada saat konflik horizontal berkecemuk di sana, ada kejadian serang menyerang antardesa yang bersumber dari laporan seorang pemuda bahwa warga desa lain menyerang desanya. Segera para pemuka masyarakat mengumpulkan warga dan menyerang desa yang dianggapnya menyerang mereka. Padahal, kejadian yang sebetulnya dilihat oleh pemuda pelapor tadi adalah ada satu mobil dari dari luar desa masuk ke desanya dan nyusruk. Itu saja. Tidak ada ucapan verbal dari pengemudi, yang saat itu pergi mencari pertolongan, bahwa dia akan menyerang desa itu.

     4) Nyambung. Kalaupun bicaranya gantian, menggunakan bahasa nonjudgemental, apa gunanya bila mereka tidak nyambung alias ngomong sendiri-sendiri. Satu orang ngomomg A, orang lain ngomong B, lantas di mana Indonesia-nya?

     Saling mendengarkan menjadi kuncinya. Dalam semangat kemerdekaan, orang punya hak untuk bicara, tapi dia juga punya hak untuk didengarkan (atau kewajiban mendengarkan,  di sisi orang lain). Di sini konsep mendengarkan perlu dibongkar. Bukan hanya meneng, diam, apalagi bengong. Mendengarkan itu kata kerja (aktif) dan untuk membuktikan bahwa seseorang mendengarkan, dia mesti mampu menyampaikan kembali poin-poin penting yang disampaikan orang lain. Setelah mampu menyampaikan kembali gagasan orang lain, baru dia boleh mengomentari atau menyampaikan gagasannya sendiri.

     Ringkasnya, proses percakapan menjadi: semua orang bicara dan didengarkan -- semua pendapat dapat dipahami semua orang (teramati dengan kemampuan orang menceritakan kembali gagasan orang secara akurat) -- ...poin-poin berikutnya di bawah ini.

     5) Konvergensi alias mengerucut. Setelah semua gagasan dipahami, semua orang mencari persamaan-persamaan mendasar. Jangan karena hal-hal superfisial/ permukaan orang kemudian berkonflik. Tidak mau mendengarkan gagasan seseorang, gara-gara tidak menyukai pakaian orang  itu? Padahal, gagasannya sama, semisal, untuk membantu mensejahterakan anak yatim. Hmm, untuk Indonesia yang beragam, perilaku semacam itu berbahaya sekali. Carilah persamaan-persamaan mendasar, maka percakapan Indonesia bisa berkembang.

     6) Terakhir, menghasilkan. Percakapan bukan hanya percakapan, tapi mesti menghasilkan sesuatu. Bentuknya dapat berupa kesepakatan, atau kesadaran akan perbedaan pendapat yang harus saling dihargai, atau bahkan, kerjasama.

     Kerjasama atau kolaborasi adalah hasil yang ideal. Dalam situasi saat ini di mana orang terbiasa  saling menghujat, menghina, atau memfitnah,  mencapai poin 1,2,3 sudah sangat bagus.

 

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Komentar

lapangan kecil, 17 Februari 2015 05:34:50
kabar baik, om sutono....terimakasih sudah mampir
sutono, 15 Februari 2015 22:42:59
apakabar om risang... mantaps sekali web dan contentnya..:)
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 105 + 6 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile