Pelajaran Komunikasi dari Seorang Dokter

23 November 2014 - Posted by admin

Pelajaran Komunikasi dari Seorang Dokter

Hari ini saya mendapat tugas memantau kerja tim survei di daerah Poris, Tangerang. Tugasnya sederhana saja, observasi kerja tim dan ajak mereka berdiskusi untuk memperbaiki kerja mereka.

 

Tidak terlalu istimewa, mungkin. Ingatan saya justru kembali ke pengalaman observasi 10 tahun lalu di daerah yang sama.

 

Saat itu isu flu H2N1 tengah merebak dan saya diminta untuk mempelajari praktik komunikasi dokter dengan pasien. Tujuannya adalah mencari model-model terbaik komunikasi untuk ditularkan ke tenaga kesehatan lainnya. Gara-gara ramai di media massa, saat itu isu H2N1 memang membuat orang ketakutan untuk terbuka menceritakan pengalaman-pengalaman yang berisiko (semisal, sehabis menyentuh unggas dsb.).

 

Salah satu subjek observasi adalah seorang dokter di Poris. Waktu tiba di kliniknya, terlihat puluhan, rasanya sekitar 60an calon pasien, yang tengah menunggu giliran. Sebelum bertemu Sang Dokter, sempat terlintas dalam pikiran, itu dokter pasti cerdas mendiagnosis dan menentukan obat serta meyakinkan dalam memberi nasehat.

 

Begitu bertemu saya mendapati sosok yang agak berbeda. Meski banyak pasien menunggu, kepada saya, Sang Dokter tidak menampakkan sikap terburu-buru. Dia menyapa santai. Fokusnya pada saya. Dan bahkan dia bertanya-tanya tentang studi yang tengah saya lakukan.

 

Sang Dokter kemudian mempersilahkan saya mengamati praktiknya dari jarak yang tidak terlalu dekat, sehingga tidak menganggu privasi, namun tetap bisa mendengarkan komunikasi yang berlangsung. Jarang-jarang saya mendapatkan kesempatan seperti ini.

 

Dari pasien ke pasien, pola komunikasi yang ditunjukkan konsisten. Dia menyapa pasien dengan ramah dan fokus, seolah tidak ada orang lain selain mereka berdua (untuk situasi ini, saya jadi ingat cerita kawan tentang Bunda Theresia, yang katanya, kalau berbicara dengan orang, maka Bunda akan fokus menyimak dan berbicara seolah tidak ada orang selain mereka berdua. Padahal di sekelilingnya ramai orang menyaksikannya).

 

Sang dokter pun banyak bertanya. Bertanya sungguhan. Saya yakin itu bukan basa-basi, karena setelah bertanya dia menyimak dengan baik. Dia tidak menyalahkan pasien, tidak menyela cerita pasien, dan bahkan, mimik dan para-language nya tampak menyelaraskan dengan emosi pasien.

 

Saat memeriksa dengen teleskop dan alat-alat lainnya, dia melakukan dengan pelan dan sambil bertanya. Setiap kali pasien bercerita, dia akan berhenti memeriksa dan menyimak baik-baik.

 

Pasien pun berbicara lancar padanya. Yang membuat saya takjub, ada nenek yang suaranya bergetar dan terlihat sulit berbicara, tapi begitu semangat bercerita kepada Sang Dokter. Dan Sang Dokter tetap menyimak dengan fokus, tanpa menyela-nyela.

 

Nasehat menasehati dilakukan di bagian akhir, setelah pasien banyak bercerita dan diperiksa. Saat Sang Dokter memberi nasehat, saya melihat pasiennya menyimak sambil mengangguk-angguk.

 

Ini salah satu momen yang semakin meyakinkan saya akan pentingnya bertanya dan mendengarkan dengan tulus dalam komunikasi. Komunikasi juga bukan semata verbal, tapi non-verbal. Dan semuanya mesti berlangsung natural, bersumber dari hati.

 

 

Penting digarisbawahi, komunikasi bukan perkara jago retorika, apalagi bersilat lidah.  

 

Praktik Sang Dokter menguatkan keyakinan saya akan prinsip resiprokal dalam berkomunikasi. Kalau ingin didengarkan, maka kita harus mendengarkan orang. Kalau ingin diperhatikan, maka kita harus memperhatikan.

 

Sambil menunggu tim survei yang tengah bekerja, saya duduk di warteg. Iseng-iseng saya bertanya pada Si Ibu penjaga warung, “Bu, kenal dokter yang pasiennya banyak itu, di daerah sana...?”

 

“Oh dokter.....yang orangnya putih, kacamata, kan? Saya juga ke sana. Baik orangnya, mas. Banyak yang cocok sama dia,” kata Si Ibu. Seorang Bapak yang tengah menyantap makanan ikut nimbrung, “Banyak yang suka ke sana. Di [perumahan] ini ada dokter, tapi orang lebih suka ke dokter.... sugesti kali ya, tapi memang banyak yang cocok sama dia.” Kemudian, seorang perempuan lain, penjaga warung sebelah, ikut bergabung dalam percakapan. Percakapan yang positif tentang Sang Dokter.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 177 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile