Bertanya atau mau pamer?

14 September 2014 - Posted by admin

Dalam satu workshop ada seorang peserta yang bertanya secara pribadi,

 

"Kenapa ya kalau di forum besar saya kurang berani bertanya. Perasaan saya gugup dan ide jadi hilang," ujarnya. "Tapi,  kalau di rapat-rapat internal, saya paling sering  bertanya," lengkapnya.

 

Saya lantas teringat pada cerita yang mirip dari seorang kawan tentang tim fasilitator-nya. "Saat memfasilitasi pertemuan kader-kader Posyandu, mereka begitu percaya diri dan meyakinkan. Proses fasilitasi berjalan lancar. Namun, saat diundang memfasilitasi staf kementerian, yang sebagian adalah pejabat,  mereka jadi gugup. Memainkan games saja salah-salah melulu," cerita kawan itu.

 

Karena itu, saya bertanya pada peserta workshop itu, "Ibu ini betul-betul ingin bertanya atau pamer?"

 

Agak tersentak, Si Peserta itu tampak heran, "Maksudnya?"

 

Penjelasan pada Si Peserta substansinya kurang lebih sama dengan penjelasan ke kawan yang mengeluhkan kinerja tim fasilitator-nya.

 

"Kalau mau bertanya, maka sikap kita mestinya sikap orang bertanya. Orang yang bertanya itu betul-betul ingin tahu pendapat atau pandangan narasumber.  Pikirannya terbuka. Sikapnya pun rendah hati. Karena itu, bila seseorang memang mau bertanya, maka bertanyalah secara tulus dan kalau begitu, dia tidak akan mendapat beban mental."

 

 "Tapi, kalau maksud bertanya itu sesungguhnya adalah ingin pamer atau menyombongkan diri, maka lumrah bila muncul beban mental. Untuk pamer atau menyombongkan diri, Si Penanya tentu mesti tampak wah, lebih hebat pengetahuan, pengalaman dll-nya dari para partisipan. "

 

Saat memfasilitasi ibu-ibu kader Posyandu, mungkin tim fasilitator kawan itu merasa yang lebih hebat. Hebat dalam pendidikan, pengetahuan, pengalaman atau lainnya. Sementara ibu-ibu kader dipandang tidak sehebat dia. Sehingga, muncul kepercayaan diri.

 

Tapi, mungkin karena orang-orang dari kementerian itu tampil lebih perlente dan lebih bagus dari sisi tutur bahasa, maka tim fasilitator itu mungkin merasa berada jauh di bawahnya. Mereka merasa tidak mampu tampil lebih hebat dari partisipan workshop. Bertambah beratlah beban mentalnya. Kepercayaan diri hilang. Kegugupan muncul dan akhirnya "nge-blank".

 

Jadi, kenapa tidak fasilitator bersikap rendah hati saja. Kenapa perlu ada yang "dipamerkan" dan "disombongkan"? Jika fasilitator menghargai partisipan sebagai narasumber yang mampu,  berpengalaman dan harus didengarkan, sementara dia sendiri bersikap rendah hati dan ingin belajar dari partisipan, mestinya tidak akan ada beban yang berarti di pundaknya. Dengan mental mode yang tepat ini kerja fasilitasi menjadi lebih ringan dan menyenangkan.

 

 

Risang Rimbatmaja

www.lapangankecil.org

 

Tags :

Komentar

RR, 18 September 2014 14:24:51
betul banget, mas Iyan! ga perlu sombong, rendah hati, dan kerja pun ringan...
Iyan S, 17 September 2014 22:47:00
Mantap.. Dengan Menggali Potensi rekan-2 sendiri yang difasilitasi hingga mereka mau berbagi, kita jadi enak, ringan nonton dan kaya seperti wasit yang mengatur ritme pertandingan.
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 107 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile