Praktik kebaikan itu untuk pelaku kebaikan

06 September 2014 - Posted by admin

Praktik kebaikan itu untuk pelaku kebaikan

Dalam kerja kerja fasilitasi kita mengenal prinsip resiprokal, seperti: kalau kita mendengarkan orang dengan baik, maka orang itu pada gilirannya akan mendengarkan kita. Kalau kita memberi perhatian pada anak dengan baik, maka sebagai respon, anak akan memperhatikan kita.

Karena itulah fasilitator belajar dengan seksama tentang teknik-teknik mendengarkan secara fasilitatif agar orang bersikap terbuka, bersemangat dan merasa dihargai saat bercerita.

Namun, prinsip resiprokal juga dapat menjerumuskan fasilitator ke praktik transaksional. Maksudnya adalah dia melakukan sesuatu karena in return dia ingin mendapatkan sesuatu. Dia mendengarkan orang karena nantinya ingin didengarkan. Dia memperhatikan anak-anak, karena dia berharap diperhatikan anak.

Dalam kerja fasilitasi, sikap transaksional itu berbahaya. Karena, komunikasi interpersonal (niat, maksud, harapan yang bergema di dalam hati) pada saatnya akan mengemuka, tampak dalam komunikasi non-verbal kita. Kalau kita tidak tulus, seberapa pun lihainya kita menggunakan teknik, pada saat tertentu orang akan dapat membacanya dan mengetahui apakah kita bener-bener tulus atau tidak.

Karena itu, prinsip resiprokal perlu dilengkapi dengan prinsip lain, yakni prinsip arah manfaat kebaikan, yakni: manfaat praktik kebaikan itu sesungguhnya kembali untuk pelaku kebaikan itu sendiri. Sama seperti prinsip resiprokal, prinsip arah manfaat kebaikan itu pun sudah banyak dibahas dalam narasi agama, dan dasar ilmiahnya pun tersedia.

Disebut Thatchenkery dan Metzker dalam Appreciative Intelligence (2006) bahwa bertingkah yang positif (memberi senyum, memandang dengan mata berbinar, dan lain-lain) ternyata memberi efek pada perasaan. Jadi, kalau kita tersenyum pada orang, maka utamanya, kitalah yang mengambil manfaat dari perilaku kita sendiri, karena perasaan kita akan lebih nyaman dan senang.

Kalau kita mendengarkan cerita positif anak dengan baik, maka kita akan mendapatkan kenyamanan, inspirasi atau motivasi tambahan. Jika kemudian orang atau anak itu tersenyum balik atau kemudian mendengarkan kita dengan cermat, maka anggaplah itu sebagai bonus dari perilaku baik.

  

Risang Rimbatmaja

www.lapangankecil.org

Komentar

Anna, 06 September 2014 16:48:25
Kereen, semoga selalu tetap sibuk karena banyak yang perlu difasilitasi biar lebih menerima perbedaan dan keragaman. Sukses ya lapangan kecil
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 139 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile