Metode partisipatif, tapi otoriter?

21 Agustus 2014 - Posted by admin

Ada pendamping masyarakat yang menjalankan metode/ kegiatan partisipatif dengan gaya  otoriter. Sebaliknya, ada orang yang mengeksekusi kegiatan non-partisipatif, semisal mengajar konvensional, tapi secara partisipatif.

 

Apa betul  ada orang-orang seperti itu? Lantas, mana yang lebih baik?

 

Yang ideal, tentu saja, metode dan gaya yang partisipatif. Tapi di lapangan, yang ideal tidak selalu muncul.

 

Kadang terlihat metode partisipatif dijalankan secara otoriter.

 

"Ibu-bapak, pagi ini adalah waktu untuk wawancara kawan-kawan petani sapi di kampung ini! Cari petani sapi yang mampu menghasilkan susu yang banyak, meski kondisi lingkungan kita kering kerontang. Temukan si penyimpang, orang yang berhasil di tengah situasi sulit ini!"

 

"Ibu Reni dan Pak Tanto, pimpin kelompok! Laksanakan tugas ibu bapak dengan baik dan kembali ke sini tepat jam 3 sore! Siap?"

 

Sebaliknya, ada metode konvensional yang tidak partisipatif, tapi dibawakan dengan gaya yang partisipatif.

 

"Bapak-bapak, pagi ini saya ingin sekali berbagi tentang cara beternak sapi. Kami sudah siapkan materi-materi tentang cara-cara sukses, yang sudah terbukti di provinsi lain. Tapi sebelumnya, mohon ijin, boleh saya isi waktu pagi ini dengan bercerita tentang cara beternak sapi?"

 

"...."

 

"Oh jadi menurut bapak cara ini sulit diterapkan di kampung sini. Kira-kira kesulitannya di mana? Boleh bapak ceritakan?

 

Lantas, mana yang lebih baik?

 

Sulit memilih mana yang lebih baik. Setiap pihak memiliki perspektif yang  sendiri. Untuk programmer atau akademisi, implementasi kegiatan partisipatif mungkin lebih penting. Tapi, kalau jadi warga, setidaknya ini pengalaman pribadi kami, telibat dalam interaksi yang partisipatif, meski kegiatannya bukan kegiatan partisipasi, rasanya lebih menyenangkan.

 

www.lapangankecil.org 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 136 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile