Tradisi Feedback Defisit

03 September 2014 - Posted by admin

Tradisi Feedback Defisit

Entah budaya, tradisi, atau apa, kerap kali sesi memberi masukan (feedback) menjadi sesi untuk menunjukkan kekurangan atau kelemahan seseorang atau suatu tim. “Mari kita beri masukan pada kawan kita!”, yang muncul kemudian adalah dia kurang ini, dia kurang itu, ini mesti diperbaiki, ini kurang pas, ini kurang tepat, itu tidak seuai dan lain-lain.

 

Apakah kita hanya bisa melihat kekurangan orang lain?

 

Bila iya, mungkin kita berada dalam bahaya.

 

Secara teoritis, kelompok, organisasi atau masyarakat, sebagai sistem yang terbuka, tidak bisa hidup lama, bila tidak diberi feedback, baik dari dalam maupun dari lingkungannya. Feedback memicu reaksi untuk perbaikan, motivasi, pikiran baru, maupun inovasi. Tapi sebaliknya, feedback juga dapat men-demotivasi kerja, menghalangi proses kreatif sampai membuahkan konflik yang merusak.

 

Pada beberapa kasus feedback yang bersifat defisit (kurang ini, kurang itu dll) mungkin bisa membuat orang atau kelompok “sadar akan kekurangannya” dan berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Namun, pada banyak kasus menunjukkan, terlalu banyak feedback defisit justru berakibat destruktif bagi kebanyakan orang (demotivasi, aleniasi, ataupun konflik).

 

Kalau pemberian feedback itu dimaksudkan untuk menyakiti hati orang, “keuntungan” yang didapat pun hanya kepuasan batin yang palsu. Bila pun tidak bermaksud demikian, ini menunjukkan si pemberi feedback sebetulnya tidak mampu melihat, apalagi mengambil aspek positif dari orang atau tim yang dikomentarinya.

 

Bila orang-orang sudah tidak mampu mengapresiasi kelebihan orang lain,  perpecahan mungkin tinggal menunggu waktu saja.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 178 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile