Bahasa Kantor vs Bahasa Kampung

16 Desember 2013 - Posted by admin

Di kantor, silahkan gunakan bahasa birokratis, tapi stop sampai di kantor saja.

Ini pesan yang kerap kami sampaikan pada kawan-kawan di lembaga pemerintahan ataupun LSM yang berinteraksi dengan warga. Tepatnya, setelah bersama-sama berlatih beragam macam “bahasa”.

 

Dalam kerja fasilitasi, bahasa mendapat perhatian serius. “Language is a behaviour”, menurut Schuman (2005) dan perilaku terkait dengan strukturnya. Di kantor, seperti kantor pemerintahan, perilaku dibentuk secara hirarkis atau berdasarkan tingkat kekuasaan. Sederhananya, yang di atas memerintah dan yang di bawah mengikuti. Kalau bawahan membangkang, maka ada hukumannya yang membuat dia terpaksa mengikuti perintah atasan atau, kalau tetap tidak mau, keluar dari kantor alias dipecat.

Bahasa berhubungan dengan struktur hubungan. Di kantor, seperti lembaga pemerintahan, yang berkembang adalah institutional talk. Dijelaskan Koestler (2004), dikutip dari Rixon, McWaters dan Rixon (2006), “institutional talk” memiliki ciri: 1) berorientasi pada tujuan, 2) terdapat aturan turn-taking tertentu terkait siapa yang boleh bicara, 3) terdapat pembatasan siapa yang boleh berkontribusi, 4) penggunaan jargon profesional, 5) interaksi yang terstruktur, dan 6) interaksi yang asimetris di mana sebagian pembicara memiliki kekuasaan atau pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

 

Institutional talk tercermin dalam ucapan-ucapan seperti:

Tujuan program ini adalah untuk meningkat status ekonomi keluarga.......

Agar berhasil, maka ibu/ bapak harus melakukan.......ini itu........

Menurut petunjuk teknis, langkah-langkah yang harus dilalui adalah .....

Setelah presentasi, kami akan buka sessi tanya jawab...


Dalam ucapan-ucapan terkandung kontrol atas tujuan/ visi yang bersumber dari perbedaan kuasa para pelaku percakapan. Juga penekanan pada hubungan logis dan ketaatan pada peraturan yang didatangkan dari luar.

 

Ucapan-ucapan itu wajar bila muncul di kantor. Tapi, ucapan-ucapan itu menjadi tidak pas ketika digunakan berinteraksi dengan warga masyarakat, yang tidak ada hubungan hirarkis.

 

Jadi, penggunaan bahas birokratis mestilah berhenti sampai di kantor saja. Struktur relasi dengan masyarakat jelas berbeda. Mereka bukan bawahan atau anak buah, tapi manusia yang setara. Dalam hubungan yang setara, bahasa yang digunakan tentu berbeda. (RR)

Tags :
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 148 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile