Verbal dan non verbal untuk membangun hubungan dengan anak-anak

20 November 2013 - Posted by admin

Verbal dan non verbal untuk membangun hubungan dengan anak-anak

“Halo adik, nama kakak XXX dari XXX adik namanya siapa?”


Kami pernah mengamati beberapa peksos (pekerja sosial) mendekati anak-anak rentan atau anak jalanan secara persuasif dengan mengandalkan bahasa verbal (lisan). Dalam sebuah studi bersama sakti (satuan bhakti) peksos yang menguji-coba TOPS (sebuah intervensi olahraga/ permainan untuk peningkatan keterampilan komunikasi, serta sikap penghargaan dan persahabatan), strategi verbal ternyata mendatangkan banyak kecurigaan anak-anak. Ringkasnya, mereka dengan mudah mengenali jika saat itu peksos melakukan lips-service untuk tujuan menjalankan program/ intervensi mereka. Karena itu, tak jarang anak-anak jalanan yang berani akan merespon dengan meminta uang atau bertanya, “ada uangnya ga?”

 

Studi kami tentang TOPS memunculkan kesimpulan bahwa aspek non-verbal menjadi penting untuk menunjukkan bahwa peksos bersikap tulus dalam membangun hubungan. Ketika anak-anak diajak bermain, tidak terasa mereka pelan-pelan mengenal peksos dan demikian pula sebaliknya, peksos mulai mengenai anak-anak.

 

Penggunaan nama adalah contoh yang kecil. Dalam pembangunan hubungan yang hanya berbasis verbal, pertanyaan tentang nama saja sudah menimbulkan kecurigaan. Muncul dalam pikiran anak, “Untuk apa orang ini tahu nama saya?” Kebanyakan anak bahkan berpikir bahwa peksos berupaya mengenal dalam rangka tugasnya saja.

 

Ketika pembangunan hubungan menggunakan permainan atau olah raga, pengenalan atau penyebutan nama memiliki fungsi yang jelas. Peksos bisa menggunakan nama untuk apresiasi, “Bagus , Budi...Jaga terus!” Atau pemanfaatan lain seperti koordinasi atau sekedar interaksi ringan.

 

Ringkasnya, permaianan atau olahraga, seperti TOPS, dapat menjadi media untuk praktik komunikasi non-verbal dan juga verbal dalam membangun hubungan dengan anak-anak. Bila hubungan baik sudah terbangun, penyampaian pesan program/ intervensi tentu menjadi lebih mudah. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 174 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile