Menjadi Master Trainer

05 November 2013 - Posted by admin

Menjadi Master Trainer

Makna master trainer kadang di-downgrade menjadi mereka yang pertama kali mendapat training, lalu melatih trainer dalam TOT (Training of Trainers). Tidak jarang dijumpai master trainer itu sehari-hari sebetulnya lebih mengurusi manajemen atau roda organisasi ketimbang pekerjaan-pekerjaan yang diajarkannya. Mereka tidak menjadi engaged trainer yang namun lebih sebagai ahli dalam training delivery. Tak heran, ada master trainer dalam kerja advokasi, namun dia sendiri tidak pernah melakukan advokasi. Pada akhirnya, pekerja lapangan atau para ujung tombak yang dikorbankan.


Tapi ada juga master trainer dalam projek/ program pembangunan sosial yang menempuh jalur yang tidak instan.  Ini penulis pelajari dari program TOPS, program perubahan perilaku anak-anak rentan melalui olahraga/ permainan fisik, yang dikelola British Council dan Kemensos. TOPS fokus pada perubahan perilaku, khususnya dalam kecakapan berkomunikasi, sikap menghargai dan pertemanan.


Meski tidak disebut sebagai master trainer, sekelompok pekerja sosial di bawah Kemensos telah melalui proses pembelajaran yang panjang, sebelum akhirnya mengajarkan TOPS pada pekerja sosial lainnya. Mereka pertama kali berkumpul bersama untuk dilatih oleh trainer TOPS internasional yang datang langsung dari UK. Setelah dua paket training, mereka diminta mempraktikkannya tanpa ada insentif dan fasilitas.


Pengalaman praktik yang pertama ini membuat mereka “babak belur”, ada yang berhasil mempraktikkannya lebih dari 10 sessi, ada yang hanya beberapa.


Setelah 3 bulan implementasi, mereka berkumpul untuk mengkaji pembelajaran yang mereka peroleh dari lapangan. Mereka juga disuguhkan hasil riset, semacam mid-term review dari kerja mereka. Kemudian didampingi pelatih internasional, mereka merumuskan kembali strategi, panduan, dan rencana implementasi berikutnya.


Di tahap 2, mereka mengimplementasikan TOPS sekitar 20-34 sessi selama 5 – 9 bulan (sessi berlangsung seminggu sekali). Dengan berbagai bekal, yakni pengalaman dilatih trainer perancang TOPS, kerja nyata di lapangan dan juga keterlibatan dalam pengembangan program, tim pekerja sosial itu kemudian melatih kolega-kolega peksos lainnya.


Mereka tidak bertitel master trainer, tapi rasanya proses yang mereka lewati mestinya menjadi standar master trainer.

Komentar

Jusriadi, 19 Desember 2015 16:20:26
Sungguh bermanfaat ilmu yang di berikan tapi klo ada filenya lebih bagus lagi mungkin.
lapangan kecil, 17 Februari 2015 05:37:24
mba Henny, saya coba check dulu ke kawan British Council apakah saat ini materi-matero TOPS sudah jadi public good. Moga-moga sudah sehingga kami bisa share soft copy-nya. Terimakasih sudah mampir
henny rachmawaty, 13 Februari 2015 14:51:09
Bagus ..boleh dung TOPS nya dibagi pengen bingit belajar. Mks ilmunya
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 140 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile