Posisi duduk menentukan interaksi siswa

16 Juli 2013 - Posted by admin

Posisi duduk menentukan interaksi siswa

Senin kemarin (14 Juli 2013) tahun ajaran baru dimulai. Ada liputan menarik di layar TV tentang siswa baru di sejumlah sekolah dasar. Seperti biasa, orang tua (umumnya para Ibu) ikut mendampingi anaknya. Tapi, bukan hanya itu saja, mereka pun ikut berebut tempat duduk buat anaknya.

 

Tampaknya para ibu menyadari posisi ikut menentukan sesuatu. Dan kenyataannya, posisi memang  banyak menentukan.

 

Dari sisi komunikasi antar-siswa posisi duduk menentukan dengan siapa nantinya anak berinteraksi atau berteman. Anak-anak cenderung mulai bergaul dengan mereka yang dekat secara jarak. Mulai dari kawan di satu bangku, lalu mereka yang di dekatnya.

 

Tak jarang, posisi duduk bertanggung jawab dalam mengembangkan batas antar-kelompok beserta prasangka-prasangka yang menguatkan batas antar-kelompok itu.

 

Sekedar contoh dari satu pengalaman nyata. Dua orang dari satu SMA kebetulan masuk satu universitas yang sama. Karena hanya mereka berdua yang diterima di universitas itu, maka mau tak mau mereka pun berinteraksi. Padahal, sewaktu di SMA mereka jarang mengobrol. Si A duduknya selalu di depan, persis dekat meja guru. Sementara, di B pos-nya di belakang.

 

Setelah berinteraksi cukup lama, si A mengatakan pada si B, “Kamu ternyata orangnya serius belajar juga ya. Aku pikir, kamu dulu di SMA ga peduli dengan pelajaran dan cuma main doang.”

 

Si B kemudian menimpali, “Kamu juga teryata orangnya asyik. Aku pikir kamu itu tukang belajar dan cari perhatian guru saja. Ternyata, kamu gaul juga.”

 

Karena merasa asing di kampus baru mereka kemudian berinteraksi. Bagaimana bila tidak ada kondisi itu?

 

Kemungkinan besar dua orang itu hanya akan bergaul dengan kelompoknya masing-masing dan tetap mengembangkan prasangka tertentu terhadap kelompok lain.

 

Kembali ke cerita tempat duduk siswa. Dalam berita TV, para ibu berebut tempat duduk buat anaknya. Tapi mestinya kita semua menyadari posisi duduk itu hanyalah sementara. Guru sebaiknya nimbrung dalam membangun komunikasi antar-siswa yang lebih baik, termasuk dengan memindah-mindah tempat duduk siswa secara teratur.

Bahkan, guru fasilitatif akan bergerak lebih jauh dengan membantu proses saling mengenal, semisal dengan membantu menghapal nama, memberi tugas mengenal kawan, membantu proses saling memahami (kesukaan atau ketidaksukaan) dll.

Dengan demikian, setiap siswa akan memiliki pengalaman komunikasi yang kaya dengan berbagai ragam siswa. “Geng-gengan” di kelas pun bisa dikurangi.

 

Lagi pula, banyak studi menemukan bahwa kenyamanan siswa berkomunikasi antar-sesama siswa ikut mempengaruhi semangat belajar dan pada akhirnya, prestasi belajar siswa. (Risang Rimbatmaja)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 115 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile